Studi: Jalur Migrasi Hiu Paus, Lewati 13 Negara dan Laut Internasional

CNN Indonesia
Senin, 04 Mei 2026 16:30 WIB
Sebuah studi terbaru menunjukkan luasnya jalur migrasi hiu paus yang bahkan bisa melewati wilayah perairan 13 negara dan laut internasional.
Perairan yang lebih luas hingga laut lepas berfungsi sebagai koridor migrasi sekaligus area mencari makan secara oportunistik, terutama ketika daya dukung di lokasi agregasi tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dan variasi mangsa bagi hiu paus. (Foto: Arsip Konservasi Indonesia)

Sementara itu, perairan yang lebih luas hingga laut lepas berfungsi sebagai koridor migrasi sekaligus area mencari makan secara oportunistik, terutama ketika daya dukung di lokasi agregasi tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dan variasi mangsa bagi hiu paus.

Menurut Iqbal, hanya sedikit lokasi yang benar-benar mendukung keberadaan hiu paus sepanjang tahun. Dua di antaranya adalah Teluk Cenderawasih dan Teluk Saleh, yang dinilai sebagai habitat kunci yang tidak tergantikan.

"Kedua lokasi tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga populasi hiu paus secara keseluruhan. Habitat sepanjang tahun sangat terbatas. Jika lokasi seperti Teluk Saleh dan Teluk Cenderawasih tidak dilindungi dengan baik, maka dampaknya bisa terasa pada populasi di seluruh kawasan Indo-Pasifik," terang Iqbal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut, hasil riset ini juga menunjukkan sebagian besar wilayah yang dilalui hiu paus berada di luar kawasan perlindungan. Mereka bergerak melintasi setidaknya 13 negara serta wilayah laut lepas yang pengelolaannya masih terbatas.

Pergerakan hiu paus mencakup kawasan lintas negara yakni, Australia, Christmas Island, Timor-Leste, Kepulauan Gilbert, Guam, Indonesia, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Nugini, Filipina, dan Kepulauan Solomon, serta kawasan luas di luar yurisdiksi nasional atau laut lepas.

"Ini menunjukkan bahwa hiu paus adalah spesies yang sangat lintas batas, sehingga perlindungannya tidak bisa dilakukan oleh satu negara saja. Kolaborasi di tingkat lokal maupun internasional sangat diperlukan untuk meningkatkan praktik pariwisata berbasis hiu paus, perikanan lebih berkelanjutan, serta menyesuaikan lalu lintas laut guna mengurangi risiko terhadap spesies yang terus mengalami penurunan ini," kata Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute Indonesia.

Dengan demikian, pendekatan konservasi yang hanya berfokus pada lokasi tertentu dinilai tidak lagi memadai.

Edy mengatakan meski kawasan konservasi laut di lokasi-lokasi agregasi tetap penting dilakukan, perlindungan ini hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan ruang dan fase-fase awal hidup hiu paus.

Senada, Guru Besar Bidang Oseanografi dari UNDIP Anindya Wirasatriya menambahkan hiu paus memanfaatkan dinamika laut layaknya jaringan 'jalan tol' alami.

"Arus dan produktivitas perairan mengarahkan pergerakan mereka, sementara area tertentu berfungsi sebagai 'rest area' tempat mereka berhenti untuk mencari makan. Ini menunjukkan bahwa perlindungan tidak bisa hanya fokus di satu lokasi, tetapi harus mencakup sistem laut yang saling terhubung," kata Anindya yang menjadi salah satu penulis dalam studi ini.

(lom/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2