Bisakah Hantavirus Menular Antarmanusia? Ini Penjelasan BRIN
Empat kasus hantavirus tercatat di DKI Jakarta sepanjang 2026, memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Lantas, bisakah virus ini menular antarmanusia?
Dinas Kesehatan DKI Jakarta sebelumnya mengungkap empat kasus hantavirus di Jakarta. Namun, tiga orang di antaranya sudah sembuh dan satu masih suspek.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat untuk memahami hantavirus secara tepat, mulai dari sumber penularan, gejala klinis, hingga langkah pencegahan.
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus liar. Beberapa jenis tikus dapat menjadi reservoir hantavirus, antara lain tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), tikus ladang, hingga mencit liar yang hidup di area permukiman, pertanian, maupun hutan.
Salah satu jenis hantavirus yang banyak dibahas adalah Andes virus, yang ditemukan pada tikus liar (Oligoryzomys longicaudatus), spesies umum yang banyak ditemukan di kawasan Patagonia, Argentina dan Chile. Virus ini dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), infeksi paru berat yang berpotensi menimbulkan gagal napas akut.
Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Lantas, bisakah virus ini menular antarmanusia?
Arief Mulyono, peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, menjelaskan, meski terdapat laporan ilmiah mengenai kemungkinan penularan antarmanusia, karakteristik penyebarannya sangat berbeda dengan penyakit yang mudah menular seperti influenza, campak, maupun Covid-19.
"Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat," kata Arief, melansir laman resmi BRIN, Minggu (10/5).
Temuan kasus pada pasangan intim juga tidak otomatis menjadikan Andes virus sebagai penyakit menular seksual. Penularan ini lebih mungkin terjadi akibat kedekatan fisik yang sangat intens, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan pada fase akut penyakit.
Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar hantavirus di antaranya pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, serta masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.
Risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.
Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.
Area tersebut juga disarankan disemprot cairan disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak berterbangan di udara.
"Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus. Yang terpenting masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar," tutur dia.
(dmi/dmi)