Cuma Ada Satu Jenis Hantavirus yang Menular Antar-manusia, Apa Itu?

CNN Indonesia
Selasa, 12 Mei 2026 08:00 WIB
Andes jadi satu-satunya jenis Hantavirus yang menular antar-manusia. Jenis virus inilah yang ditemukan mewabah di kapal pesiar MV Hondius.
Ilustrasi. Andes jadi satu-satunya jenis Hantavirus yang menular antar-manusia. (iStockphoto/Md Saiful Islam Khan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kekhawatiran soal Hantavirus kembali muncul setelah World Health Organization (WHO) mengonfirmasi kemunculan virus jenis Andes dalam wabah di kapal pesiar MV Hondius di kawasan Atlantik Selatan.

WHO menyebut hingga kini terdapat delapan kasus yang dilaporkan, termasuk tiga kematian. Dari jumlah tersebut, enam kasus telah dipastikan positif terinfeksi Hantavirus jenis Andes melalui tes PCR.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andes sendiri merupakan salah satu jenis dari Hantavirus. Berbeda dari sebagian besar jenis Hantavirus lainnya, Andes diketahui dapat menular dari manusia ke manusia.

Mengutip dari CDC, virus Andes merupakan satu-satunya jenis Hantavirus yang sejauh ini terbukti bisa memicu penularan antar manusia. Virus ini banyak ditemukan di wilayah Amerika Selatan, terutama Argentina dan Chili.

Sebagian besar Hantavirus umumnya menular melalui tikus liar, urine, air liur, atau kotorannya. Namun, virus Andes memiliki karakter berbeda karena dapat berpindah antar-manusia dalam kondisi tertentu.

Meski demikian, para ahli menegaskan penularannya tidak semudah Covid-19, campak, atau influenza.

Hantavirus Society menyebut, hingga saat ini tidak ada indikasi bahwa wabah tersebut berpotensi menjadi pandemi global seperti Covid-19.

Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa penularan Andes virus biasanya terjadi dalam kontak yang sangat dekat dan berlangsung lama.

Berikut merupakan beberapa penyebaran virus Andes yang dapat terjadi:
- Melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi atau urin, air liur, atau kotorannya.
- Menyentuh benda atau permukaan yang tekontaminasi virus, lalu menyentuh mulut, hidung, atau mata.
- Melalui kontak dekat dengan orang yang sakit akibat virus Andes.

Oleh karena itu, risiko penularan umumnya lebih tinggi pada keluarga serumah atau tenaga perawat yang melakukan kontak intens dengan pasien.

Para ilmuwan mengatakan, bukti soal penularan antar-manusia ini sudah terlihat dari berbagai investigasi wabah selama puluhan tahun.

Salah satu kasus yang paling banyak disorot terjadi pada wabah Epuyen di Argentina tahun 2018-2019. Saat itu, satu pasien awal diketahui menghadiri sejumlah pertemuan ketika mulai mengalami gejala. Wabah tersebut kemudian menyebabkan 34 orang terinfeksi.

Virus Andes sendiri dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu gangguan pernapasan serius yang dapat berkembang cepat dan berujung fatal.

Tingkat kematian akibat penyakit ini dilaporkan berkisar 20 hingga 40 persen, tergantung kondisi pasien dan kecepatan penanganan medis.

Terdapat beberapa gejala awal yang perlu diwaspadai karena biasanya menyerupai flu seperti:
- demam,
- nyeri otot,
- sakit kepala,
- pusing,
- panas dingin,
- mual, muntah, hingga nyeri perut.

Dalam beberapa hari, kondisi bisa berkembang menjadi batuk dan sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru. Gejala dapat muncul sekitar 4 hingga 42 hari setelah paparan virus.

Hingga kini, belum ada vaksin maupun obat antivirus khusus untuk Hantavirus. Penanganan masih berfokus pada perawatan intensif dan penanganan gejala.

Para ahli juga mengingatkan bahwa hasil PCR negatif sesaat setelah terpapar belum tentu berarti seseorang aman dari infeksi. Hal ini karena virus dapat memiliki masa inkubasi cukup panjang.

Pemantauan kesehatan dan tes PCR ulang tetap dilakukan pada orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien.

(nga/asr) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]