PBB: El Nino Bakal 'Siram Bensin' ke Bumi yang Makin Panas
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan darurat terkait ancaman krisis iklim global terbaru imbas kemunculan El Nino tahun ini. Kemunculan anomali iklim tersebut diprediksi bakal memicu cuaca ekstrem dan mengancam ketahanan pangan di berbagai belahan dunia.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa kembalinya fenomena ini harus disikapi sebagai peringatan iklim yang sangat mendesak. Menurutnya, kondisi Bumi yang saat ini sudah mencatatkan rekor suhu terpanas akibat pemanasan global akan semakin diperparah oleh kedatangan El Nino.
Lihat Juga : |
"El Nino akan menuangkan bahan bakar ke api dunia yang sedang memanas," kata Guterres dalam pernyataan resminya, melansir Newsweek, Kamis (4/6).
Ia menambahkan bahwa dampak buruk kemunculan El Nino akan menghantam lebih keras, menyebar lebih jauh, hingga melintasi batasan-batasan negara dengan kecepatan merusak.
Menurut dia dunia harus mengambil respons yang efektif untuk menghadapi masalah ini. Beberapa cara yang bisa dilakukan di antaranya, mengakhiri ketergantungan bahan bakar fosil, mempercepat peralihan ke energi terbarukan, melindungi kelompok rentan, hingga menyediakan sistem peringatan bagi semua.
Badan Meteorologi Dunia (WMO) merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuator tengah-timur kini sudah mendekati ambang batas pembentukan El Nino.
Komponen atmosfer global lainnya seperti Southern Oscillation Index (SOI) juga menunjukkan indikasi kuat terkait kemunculan fenomena El Nino.
WMO memproyeksi peluang terbentuknya El Nino mencapai 80 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026. Angka probabilitas ini melonjak drastis hingga 90 persen menjelang November 2026.
Sekjen WMO Celeste Saulo mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera melakukan langkah mitigasi guna menghadapi fenomena iklim tersebut. Ia menilai pemetaan dini sangat krusial demi menyelamatkan sektor-sektor sensitif seperti pertanian, manajemen air, dan ketahanan energi.
Kemunculan El Nino bakal memberikan dampak berbeda. Menurut WMO, El Nino berpotensi memberikan dampak kekeringan ekstrem di wilayah Australia, Amerika Tengah, Karibia, bagian utara Amerika Selatan, dan sebagian besar Asia Selatan hingga Asia Tenggara.
Sementara, di wilayah selatan Amerika Serikat, wilayah selatan Amerika Selatan, kawasan Tanduk Afrika, dan Asia Tengah, El Nino berpotensi memicu curah hujan ekstrem hingga bisa menyebabkan banjir.
Potensi lahirnya 'Super El Nino'
Sejak awal, para pakar sudah memprakirakan El Nino tahun ini akan jadi salah satu yang terkuat.
Kekhawatiran para ilmuwan menebal mengingat siklus El Niño periode 2023-2024 lalu menempati daftar salah satu dari lima siklus terkuat dalam sejarah yang sukses memecahkan rekor tahun terpanas global.
Berdasarkan model prediksi iklim dari Badan Administrasi Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA), terdapat peluang sebesar 50-50 bahwa anomali tahun ini akan berkembang menjadi "Super El Niño".
Kondisi ini merujuk pada lonjakan suhu air laut di Pasifik timur laut khatulistiwa yang mencapai lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata normal dalam beberapa bulan berturut-turut.
Jika prediksi ini terwujud, para ahli memperkirakan lonjakan suhu global akan kembali mencatatkan rekor ekstrem baru pada akhir tahun hingga memasuki 2027.
Bagaimana kondisi Indonesia?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino berpotensi muncul pada paruh kedua 2026. Peluang kemunculan El Nino pada semester kedua 2026 tergolong cukup tinggi, berkisar antara 50 hingga 80 persen.
Meski demikian, kekuatannya diperkirakan tidak akan seekstrem kejadian besar di masa lalu.
"Peluang kejadiannya cukup tinggi, yaitu di angka 50 sampai 80 persen untuk semester dua tahun 2026," Pakar iklim BMKG Indra Gustari dalam sebuah unggahan di Instagram beberapa waktu lalu.
Meski peluang El Nino sangat kuat di 2026 relatif kecil, diperkirakan di bawah 20 persen, Indra mengingatkan agar masyarakat dan pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan.
"Peluang munculnya El Nino sangat kuat itu di tahun 2026 itu relatif kecil yaitu di bawah 20 persen, tapi bukan berarti kita bisa bersantai. Musim kemarau diprediksi datang lebih cepat dan berlangsung lebih lama dari normal," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya langkah antisipasi sejak dini, mulai dari menjaga ketersediaan air bersih dan irigasi pertanian hingga mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan.
(dmi)