Pertama Kalinya, Ilmuwan Berhasil Ciptakan Sel dari Nol
Para ilmuwan mengaku berhasil menciptakan sel buatan dari nol untuk pertama kalinya. Sel ini mampu menyerap nutrisi, tumbuh, dan membelah diri layaknya sel alami.
Kate Adamala, pakar biologi sintetis sekaligus profesor Universitas Minnesota, bersama timnya merakit sel ini bagian demi bagian menggunakan komponen kimia mati. Meski hasil ciptaan ini masih berupa prototipe, temuan tersebut dapat membantu para ilmuwan memahami asal-usul kehidupan dengan lebih baik.
Selain itu, penemuan ini juga berpotensi diprogram untuk mengatasi berbagai masalah biologis terbesar di dunia. Sel ini bersifat umum, artinya bukan termasuk sel tumbuhan maupun hewan, tapi bentuknya paling mirip dengan bakteri sederhana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tahu seluruh daftar bahan penyusun sel ini. Saya tahu persis bahan kimia apa saja, molekul apa saja, dan berapa konsentrasinya," kata Adamala, melansir CNN, Rabu (1/7).
"Semuanya terdefinisi dengan jelas, yang berarti kita bisa merekayasanya," lanjut dia.
Adamala menamai ciptaannya 'SpudCell', karena tidak ingin sel tersebut dinamai dengan namanya sendiri. Nama itu juga plesetan dari Sputnik, satelit Rusia yang memulai era penjelajahan ruang angkasa tahun 1950-an.
Adamala dan tim mempublikasikan naskah ilmiah yang merinci cara kerja SpudCell pada Rabu (1/6), meskipun penelitian tersebut belum diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang ditinjau sejawat (peer-reviewed). Adamala mengatakan naskah itu akan diajukan untuk publikasi pekan ini.
Terdiri dari ratusan molekul
Ia menjelaskan bahwa SpudCell terdiri dari 150 hingga 200 molekul yang dapat menyerap nutrisi, tumbuh, dan membelah diri hingga sekitar lima generasi. Struktur ini jauh lebih sederhana daripada sel biologis asli yang menampung jutaan, atau bahkan miliiaran molekul.
Adamala menggambarkan SpudCell sebagai organisme yang sangat lemah, dan praktis tidak melakukan apa-apa selain makan dan sesekali menghasilkan sel anakan. Setiap generasi butuh asupan nutrisi dan waktu sekitar 12 jam untuk membelah diri pada suhu 30 derajat Celsius.
Sebagai perbandingan, bakteri E. coli dapat membelah diri setiap 30 menit.
Rangkaian gen (genom) sel sintetis ini juga jauh lebih kecil daripada sel alami, dengan 90.000 pasang basa. Meskipun dapat membelah diri seperti sel alami, sel sintetis ini menggunakan mekanisme yang berbeda.
Sel alami menggunakan sitoskeleton, sesuatu yang tidak dimiliki SpudCell. Sebaliknya, sel buatan ini memproduksi protein yang menumpuk di bagian membran, sehingga memaksa dinding sel tersebut untuk terbelah.
SpudCell juga tidak mampu membuat ribosomnya sendiri, yang merupakan bagian penting dari sel alami untuk memproduksi protein. Sebagai gantinya, ia menggunakan ribosom E. coli yang dimasukkan melalui asupan nutrisinya.
"Ini baru permulaan. Ini adalah fondasi yang kami harap dapat terus dikembangkan, dan itu sangat penting, karena sekarang kami memiliki gambaran yang masuk akal tentang bagaimana cara mengembangkannya," ujar dia.
as a preferred source on Google



