Satelit Lampung-1 Meluncur ke Orbit dari China, Apa Saja Fungsinya?

CNN Indonesia
Kamis, 06 Agu 2026 15:56 WIB
Satelit hiperspektral Lampung-1 diluncurkan dari China, kolaborasi Pemprov Lampung dengan STAR.VISION. (Foto: Arsip Istimewa via Detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia --

Satelit hiperspektral Lampung-1 berbasis kecerdasan artifisial (AI) diluncurkan dari perairan Haiyang, Provinsi Shandong, China, Rabu (5/8). Satelit ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Lampung dengan perusahaan teknologi antariksa STAR.VISION.

Peluncuran satelit dilakukan menggunakan roket Smart Dragon-3 dalam misi OSE Hyperspectral Twin Satellites.

Peluncuran tersebut disaksikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama delegasi Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Provinsi Shandong, STAR.VISION Aerospace, serta sejumlah mitra internasional.

Rahmat berharap teknologi satelit dan AI dapat membantu pemerintah mengambil kebijakan pembangunan yang lebih akurat.

"Ini adalah momen yang sangat membanggakan. Yang kami saksikan hari ini bukan sekadar peluncuran sebuah satelit, tetapi dimulainya babak baru kerja sama internasional yang akan membantu Lampung memanfaatkan teknologi antariksa dan kecerdasan artifisial untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan," kata Rahmat, dikutip dari Detikcom.

Menurut Rahmat, kerja sama tersebut tidak hanya sebatas pemanfaatan citra satelit. Pemprov Lampung juga akan membangun ekosistem teknologi hiperspektral dan AI melalui transfer pengetahuan, riset bersama, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pengembangan aplikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah.

Dalam implementasi satelit ini, Pemprov Lampung turut menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengolah data satelit sebelum dimanfaatkan pemerintah daerah.

Nantinya, data yang diperoleh akan melalui proses kalibrasi, validasi kualitas, analisis, hingga diterjemahkan menjadi informasi yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan.

Rahmat menyebut kolaborasi dengan BRIN juga bertujuan memastikan seluruh pemanfaatan data dilakukan sesuai standar ilmiah serta regulasi penginderaan jauh yang berlaku di Indonesia.

Sektor pertanian disebut sebagai prioritas awal pemanfaatan Lampung-1, dengan data yang akan digunakan untuk pemetaan lahan, memantau kondisi tanaman, mendeteksi kekurangan air, mengidentifikasi gangguan tanaman, hingga memperkirakan potensi hasil panen. Salah satu komoditas yang menjadi fokus awal ialah singkong.

Selain pertanian, satelit tersebut juga diproyeksikan mendukung pemantauan lingkungan, kawasan pesisir dan kelautan, mitigasi banjir dan kekeringan, perubahan tutupan lahan, hingga perencanaan pembangunan daerah.

"Teknologi ini bukan menggantikan petani. Teknologi ini membantu petani dan pemerintah mengambil keputusan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih tepat sasaran," tuturnya.

Lebih lanjut, Rahmat mengatakan Lampung-1 merupakan satelit hiperspektral yang dibekali kemampuan AI untuk membantu pemrosesan awal data di orbit.

Namun, satelit tersebut masih harus melewati tahapan pemeriksaan sistem, stabilisasi, kalibrasi sensor, pengujian muatan, dan validasi kualitas data sebelum dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Keberhasilan sesungguhnya bukan hanya ketika roket mencapai orbit, tetapi ketika teknologi yang dibawanya benar-benar membantu menyelesaikan tantangan pembangunan di daerah," ujarnya.

Rahmat menekankan pembangunan dan peluncuran Lampung-1 tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Lampung. Pembangunan, kepemilikan, hingga pengoperasian satelit menjadi tanggung jawab STAR.VISION Aerospace, sementara Pemprov Lampung mengambil peran sebagai mitra dalam pengembangan pemanfaatan data untuk mendukung pembangunan daerah.

(lom)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK