Teknologi Buatan Indonesia yang Diam-diam Dipakai Dunia

CNN Indonesia
Senin, 17 Agu 2026 08:10 WIB
Indonesia memiliki teknologi inovatif yang digunakan di luar negeri, salah satunya QRIS. (Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia memiliki sejumlah teknologi yang tak hanya digunakan di dalam negeri, tetapi juga telah merambah berbagai negara.

Banyak yang beranggapan masyarakat Indonesia hanya konsumen produk dan inovasi teknologi.

Namun, beberapa inovasi seperti teknik konstruksi jalan layang, pesawat terbang, sistem peringatan dini tsunami, hingga sistem pembayaran digital yang lahir dan dikembangkan di Indonesia ternyata telah banyak dimanfaatkan di luar negeri.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut empat teknologi Indonesia yang diam-diam dipakai dunia.

1. Teknologi Sosrobahu

Teknologi Landasan Putar Bebas Hambatan (LPBH) atau Sosrobahu merupakan inovasi konstruksi yang ditemukan insinyur Indonesia Tjokorda Raka Sukawati.

Teknik ini memungkinkan pembangunan bagian kepala tiang atau pier head jalan layang dilakukan tanpa terlalu mengganggu lalu lintas di bawahnya.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat teknologi Sosrobahu tidak hanya digunakan di Indonesia, tetapi juga telah diterapkan di sejumlah negara lain.

Negara-negara tersebut antara lain Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Di Filipina, teknologi Sosrobahu bahkan digunakan dalam pembangunan salah satu jalan layang panjang di negara tersebut.

2. Pesawat CN235

Indonesia juga memiliki CN235, pesawat yang hingga kini diproduksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan telah digunakan berbagai negara.

CN235 pada awalnya merupakan hasil pengembangan bersama Industri Pesawat Terbang Nurtanio atau IPTN, yang kini menjadi PTDI, dengan perusahaan Spanyol CASA, yang kini menjadi bagian Airbus Defence and Space.

Kedua perusahaan membentuk perusahaan patungan Aircraft Technology atau Airtech pada 17 Oktober 1979 untuk merancang CN235. Pengembangan bersama dimulai pada 1980.

Prototipe buatan CASA bernama "Elena" melakukan penerbangan perdana pada 11 November 1983. Sementara prototipe buatan IPTN yang diberi nama "Tetuko" terbang untuk pertama kalinya pada Desember tahun yang sama.

Produksi serial CN235 kemudian dimulai pada 1986. Dalam perkembangannya, IPTN atau PTDI mengembangkan varian 110 dan 220, sedangkan CASA mengembangkan versi 200 dan 300.

Kini, PTDI menjadi satu-satunya perusahaan yang memproduksi CN235.

PTDI mencatat CN235-220 telah beroperasi di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Burkina Faso, Pakistan, Senegal, dan Nepal.

Pesawat tersebut digunakan dalam beragam konfigurasi, termasuk transportasi militer dan patroli maritim.

CN235 diketahui memang dirancang sebagai pesawat multiguna dan kemudian digunakan untuk beragam misi penerbangan maupun patroli.

3. InaTEWS

Indonesia Tsunami Early Warning System atau InaTEWS merupakan sistem peringatan dini tsunami yang dioperasikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Sistem tersebut tak hanya menjadi bagian penting mitigasi tsunami di Indonesia, tetapi juga sejumlah negara.

Pasalnya, BMKG menjalankan peran sebagai Tsunami Service Provider (TSP) untuk kawasan Samudra Hindia bersama Australia dan India.

Dalam peran tersebut, BMKG menyediakan informasi peringatan dini tsunami bagi 28 negara sebagai bagian dari kerja sama regional.

BMKG menyebut sistemnya mampu merilis parameter gempa dalam waktu sekitar 30 hingga 60 detik, sedangkan peringatan dini tsunami dapat dikeluarkan dalam waktu kurang dari tiga menit.

Artinya, sistem peringatan dini yang dioperasikan Indonesia tidak hanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi menjadi salah satu sumber informasi bagi negara-negara di kawasan Samudra Hindia.

4. QRIS

Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS menjadi salah satu teknologi Indonesia yang belakangan semakin terasa kehadirannya di luar negeri.

QRIS dikembangkan Bank Indonesia bersama industri sistem pembayaran untuk membuat transaksi menggunakan kode QR lebih mudah dan terstandardisasi.

Melalui QRIS Antarnegara, wisatawan Indonesia dapat menggunakan aplikasi pembayaran domestik untuk bertransaksi di negara mitra. Sebaliknya, wisatawan dari negara mitra juga dapat melakukan transaksi di Indonesia melalui sistem pembayaran yang telah terkoneksi.

Bank Indonesia mencatat QRIS Antarnegara saat ini telah digunakan untuk transaksi yang terhubung dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China.

Sistem ini membuat transaksi lintas negara dapat dilakukan melalui interoperabilitas QR tanpa pengguna harus bergantung pada satu jaringan pembayaran yang sama.

(lom)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK