Jepang Siapkan Misi Ambil Sampel dari Phobos, Bulan Mars

CNN Indonesia
Minggu, 16 Agu 2026 23:59 WIB
Misi nirawak MMX dijadwalkan meluncur dari Tanegashima beberapa bulan lagi untuk mengambil sampel Phobos dan memulangkannya ke Bumi sekitar 2031. (istockphoto/JoeLena)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ilmuwan Jepang menyiapkan misi nirawak Martian Moons eXploration (MMX) untuk mengambil sampel dari Phobos, salah satu bulan Mars, yang berpotensi mengungkap asal-usul Tata Surya dan kehidupan di Bumi.

Wahana tersebut dijadwalkan meluncur dari Tanegashima Space Center dalam beberapa bulan ke depan. MMX sudah diperlihatkan kepada media pada Kamis pekan lalu.

Wahana akan berada di orbit Mars sekitar tiga tahun dan berupaya mendarat di Phobos untuk mengumpulkan setidaknya 10 gram material dari permukaannya.

Penjelajah IDEFIX akan melakukan pengamatan permukaan. Nama itu diambil dari nama Prancis untuk anjing milik tokoh komik Asterix.

Wahana juga akan mengamati Deimos, bulan Mars lainnya, tanpa mendarat. Kapsul pengembalian selanjutnya menuju Bumi untuk mendarat di Australia sekitar 2031.

MMX merupakan kolaborasi dengan Pusat Studi Antariksa Nasional Prancis (CNES), Pusat Dirgantara Jerman (DLR), NASA, dan Badan Antariksa Eropa (ESA), serta sejumlah universitas dan perusahaan teknologi.

Pengembangan kaki pendarat wahana disebut paling sulit karena gravitasi di Phobos amat rendah, menurut insinyur Mitsubishi Electric, Akinari Uehara.

"Kami harus mencegah (wahana) terjatuh, dengan membuat kakinya meredam benturan saat mendarat," kata Uehara, dikutip AFP, Minggu (16/8).

Jepang punya rekam jejak beragam. Wahana Smart Lander for Investigating Moon (SLIM) atau Moon Sniper terguling setelah mendarat di Bulan pada 2024, tetapi tetap mengirimkan data dan bertahan melewati beberapa malam bulan yang masing-masing berlangsung dua pekan.

Adapun Hayabusa-2 milik Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) berhasil memulangkan 5,4 gram batuan dan debu dari sebuah asteroid berjarak beberapa ratus juta kilometer dari Bumi pada 2020.

Bukan satu-satunya

Penjelajah Perseverance milik NASA yang menjelajahi Mars sejak 2021 sudah mengumpulkan sampel yang siap dibawa kembali ke Bumi. Namun, misi tersebut secara efektif dibatalkan pemerintahan Presiden Donald Trump menyusul pemungutan suara Kongres AS pada Januari.

China mengumumkan wahana Tianwen-3 dijadwalkan meluncur sekitar 2028 dan mengembalikan sampel Mars ke Bumi sekitar 2031, berpotensi lebih awal dari pengembalian sampel MMX.

JAXA berharap misi ini mengungkap bagaimana Mars dan bulan-bulannya terbentuk. Ada dua teori yang bersaing.

Hipotesis tumbukan raksasa menyebut kedua bulan terbentuk setelah sebuah benda langit menabrak Mars. Hipotesis tangkapan menduga keduanya adalah asteroid dari Tata Surya luar yang tertangkap gravitasi Mars.

Menurut JAXA, menentukan mana yang benar akan membantu mengungkap bagaimana lingkungan layak huni bagi kehidupan bisa muncul di planet kebumian, yakni Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.

Badan antariksa itu juga menjajaki kemungkinan memakai Phobos sebagai stasiun luar angkasa alami, dengan membangun teknologi perjalanan pulang pergi ke Mars yang disebut esensial bagi eksplorasi berawak.

"MMX akan menerangi mekanisme pengangkutan yang mengantarkan air, senyawa mudah menguap, dan senyawa organik dari Tata Surya luar ke wilayah planet berbatu bagian dalam, proses yang mungkin berperan kunci dalam menjadikan dunia-dunia itu layak huni," ujar astrofisikawan Prancis yang menggarap IDEFIX, Patrick Michel.

"Jika Phobos dan Deimos memang sisa dari sistem pengantaran awal itu, keduanya mungkin menyimpan petunjuk tentang asal-usul kehidupan itu sendiri, atau lebih tepatnya, tentang pengangkutan material yang menjadi kunci kemunculan kehidupan di planet berbatu," tuturnya.

(fea)


Saksikan Video di Bawah Ini:

Putin Kunjungi Pulau Sengketa, Jepang Protes

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK