Berambisi Jadi Negara Netral Karbon, Vatikan Lirik Energi Surya
Vatikan akan membangun pembangkit energi terbarukan senilai sekitar 100 juta euro (Rp2,05 triliun) dengan sistem agrovoltaik, yang memanfaatkan lahan perkebunan untuk panel surya tanpa mengganggu pertumbuhan tanamannya.
Sebelumnya, negara terkecil di dunia ini menggantungkan kebutuhan listriknya dari Italia. Namun, Takhta Suci (Holy See) dan pemerintahan Italia telah membuat perjanjian terkait kemandirian energi melalui pembangunan pembangkit listrik agrivoltaik Santa Maria di Galeria.
Dilansir Reuters, dengan kapasitas yang diperkirakan mencapai 90 megawatt, proyek ini akan menjadi salah satu instalasi agrivoltaik terbesar di seluruh Italia.
Dengan populasi tidak lebih dari seribu jiwa, jumlah energi tersebut dinilai mampu mencukupi kebutuhan listrik seluruh negara tersebut.
Panel surya diklaim tidak akan mengganggu pertanian di lahan Santa Maria di Galeria, sementara surplus listrik akan dialirkan untuk Italia. Proyek ini dinilai akan sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Panel surya akan dipasang beberapa meter di atas tanah, sehingga tanaman tetap dapat tumbuh di bawahnya. Bayangan dari panel juga akan membantu mengurangi penguapan dan melindungi tanaman dari cuaca ekstem.
Perwakilan dari Italia dan Vatikan bertemu untuk meluncurkan proyek ini pada awal Agustus kemarin, setelah Italia secara resmi meratifikasi atau mengesahkan perjanjian bilateral untuk pengembangan kawasan Santa Maria di Galeria tersebut.
Belum ada angka pasti mengenai rincian biaya, kapasitas, atau jangka waktu proyek setelah pertemuan tersebut.
Beberapa sumber mengatakan bahwa perizinan, prosedur administratif, dan pembangunan dapat memakan waktu 18-24 bulan untuk diselesaikan. Sementara itu, Vatikan belum memberi tanggapan resminya.
Sebagai informasi, proyek ini merupakan prioritas bagi mendiang Paus Fransiskus, paus pertama yang resmi mendukung pandangan ilmiah terkait perubahan iklim. Proyek ini juga telah mendapat dukungan dari Paus Leo XIV.
Dikutip dari BGR, kota-kota lain di seluruh dunia juga telah mengupayakan penggunaan energi terbarukan. Di Amerika Serikat (AS), beberapa negara bagian menghasilkan lebih banyak listrik dari tenaga surya daripada batu bara atau gas alam.
Kota Babcock Ranch di Florida lebih dulu menjadi kota yang sepenuhnya bertenaga surya sejak 2016 dan dijuluki kota paling berkelanjutan di dunia.
Pada 2025, Uni Eropa juga telah menghasilkan 30 persen listriknya dari angin dan matahari.
(fta/lom)