Potret Terbaru Kalimantan dari Satelit NASA, Kabut Asap Makin Tebal

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 10:48 WIB
NASA Rilis foto satelit kebakaran lahan gambut meredupkan langit di Indonesia
NASA Rilis foto satelit kebakaran lahan gambut meredupkan langit di Indonesia. (Foto: NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, menangkap potret terbaru kondisi Kalimantan yang semakin diselimuti asap tebal imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam foto terbaru itu, pulau yang disebut sebagai paru-paru dunia itu hampir tidak terlihat karena sebagian besar wilayahnya tertutup asap.

Foto itu diambil pada Selasa (1/9) oleh instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectoradiometer) pada satelit Aqua milik NASA. Selain foto kabut asap, satelit ini juga menangkap hot spot atau titik api kebakaran hutan yang tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan.

Robert Field, peneliti dari Columbia University, mengungkap bahwa salah satu penyebab karhutla di Kalimantan adalah fenomena El Nino kategori kuat yang sedang terjadi. Robert, yang juga mengembangkan instrumen Global Fire Weather Database untuk membuat prakiraan cuaca kebakaran secara real-time, memprediksi kondisi ini bisa lebih parah dari kejadian serupa pada 1997 dan 2015.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indonesia baru berjalan sekitar tiga minggu memasuki musim kebakarannya, tetapi kita sudah melihat aktivitas api melonjak tajam, mirip seperti tahun 2015," kata Robert, melansir situs resmi NASA.

"El Nino yang kuat membuat musim kemarau menjadi jauh lebih kering di daerah-daerah yang rawan kebakaran dan memperparah situasi, persis seperti yang sudah kita perkirakan," ujarnya menambahkan.

Ia menyebut bahwa pada tahun 2015, setelah terbakar selama lebih dari tiga bulan, kebakaran di Indonesia melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca, melebihi total emisi tahunan Jepang.

Sementara itu, hingga Rabu (2/9), kebakaran tahun ini yang baru berlangsung sekitar satu bulan, melepaskan emisi sekitar 10 persen dari total emisi kebakaran tahun 2015.

Sama seperti tahun 2015, Indonesia tengah berada di tengah cengkeraman kekeringan yang parah dan meluas pada musim panas 2026. Sekitar 90 persen wilayah Indonesia mencatat curah hujan yang sangat sedikit hingga tidak ada hujan sama sekali pada awal Agustus, berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dalam kondisi normal, lapisan gambut di bawah tanah Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memicu penyebaran api, tetapi situasi berubah saat kekeringan melanda.

"Kebakaran di permukaan sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api sudah menjalar ke bawah tanah, api tersebut sangat sulit dihentikan," kata Robert.

"Apinya akan terus membara sampai hujan turun di bulan Oktober atau November," lanjut dia.

Pemerintah Indonesia memanfaatkan pengamatan dari satelit NASA dan NOAA lewat sensor MODIS dan VIIRS untuk memantau titik api secara near-real-time. Platform pemantauan kebakaran milik Kementerian Kehutanan SiPongi, misalnya mencatat ada 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.

Namun, sensor MODIS dan VIIRS memiliki keterbatasan untuk mendeteksi api yang tertutup asap tebal, awan, berada di bawah kanopi hutan, atau di bawah permukaan tanah gambut. Ketika kebakaran di Indonesia mencapai puncaknya, jumlah api yang terekam oleh VIIRS atau MODIS justru bisa terlihat menurun.

"Peristiwa asap terparah, secara paradoks, justru menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS," kata Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science.

Kenapa makin rawan kebakaran?

Menurut Cochrane, pembangunan saluran irigasi dan pengeringan rawa gambut skala besar pada tahun 1990-an untuk proyek cetak sawah berkontribusi besar pada tingginya kerawanan kebakaran saat ini, karena menurunkan permukaan air tanah secara drastis di wilayah lahan basah.

Ia juga menambahkan bahwa perkebunan kelapa sawit dan konsesi hutan tanaman industri sangat umum di wilayah ini.

Dampak kabut asap di Indonesia dan negara-negara tetangga sudah mulai mengganggu aktivitas warga. Pejabat pemerintah Indonesia telah memperingatkan bahwa sebagian besar masyarakat terpapar asap berbahaya.

Beberapa sekolah mulai mengalihkan kegiatan belajar mengajar secara daring, sembilan taman nasional ditutup sementara, dan sejumlah penerbangan mengalami penundaan akibat jarak pandang yang tertutup asap tebal.

"Orang-orang cenderung baru memberikan perhatian pada kebakaran ini saat El Nino terjadi, lalu melupakannya begitu saja setelahnya," tutur Cochrane.

"Kita membutuhkan fokus dan komitmen yang berkelanjutan, bahkan pada tahun-tahun ketika kondisinya tidak terlalu buruk, untuk benar-benar menyelesaikan masalah ini. Kebakaran ini menghasilkan emisi dalam jumlah yang sangat besar," lanjut dia.

(dmi)
placeholder