El Nino Ekstrem Bikin Nyamuk Makin Banyak, Apa Alasannya?

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 10:02 WIB
An Aedes aegypti mosquito with the dengue-blocking Wolbachia bacteria is seen at a laboratory in the Wolbito do Brasil plant in Curitiba, Parana state, Brazil September 1, 2025. REUTERS/Rodolfo Buhrer
Fenomena El Nino meningkatkan populasi nyamuk di Singapura, memperburuk risiko demam berdarah. (Foto: REUTERS/Rodolfo Buhrer)
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena El Nino bisa menjadi ancaman bagi sejumlah satwa di seluruh dunia, tetapi fenomena ini juga bisa menjadi pemicu lonjakan populasi beberapa jenis satwa, salah satunya nyamuk. Kira-kira apa alasannya?

Cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino dinilai dapat menekan populasi satwa liar, tetapi situasi yang sama justru menguntungkan beragam jenis satwa yang mudah beradaptasi, salah satunya nyamuk.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari Channel News Asia, nyamuk berkembang biak dengan subur di iklim tropis dan lingkungan padat seperti Singapura.

Berdasarkan studi tahun 2025 yang menganalisa kasus demam berdarah di Singapura selama lebih dari dua dekade, risiko demam berdarah meningkat seiring dengan fenomena El Nino kuat. Analisa ini juga turut memasukkan suhu dan curah hujan lokal dalam perhitungannya.

Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura menjelaskan iklim tropis dengan kepadatan penduduk yang tinggi di Singapura menciptakan kondisi yang ideal untuk nyamuk sepanjang tahun.

Menurut mereka, cuaca yang lebih panas dapat meningkatkan populasi nyamuk dengan mempercepat siklus hidup dan perkembangbiakan virus.

Sementara itu, studi internasional lainnya menunjukkan bahwa suhu tinggi, musim dingin yang hangat, dan curah hujan yang tidak normal akibat El Nino dapat memengaruhi perkembangbiakan nyamuk yang akan meningkatkan risiko penularan demam berdarah.

"Suhu yang meningkat bisa memperpendek siklus hidup nyamuk pembawa virus serta mempercepat laju perkembangbiakan mereka. Di sisi lain, suhu panas juga dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan virus demam berdarah untuk menggandakan diri dalam tubuh nyamuk," kata Wakil Direktur Jenderal sekaligus juru bicara Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC) Tseng Shu-hui, dikutip dari Taipei News.

Setelah hujan lebat atau hujan terus-menerus, genangan air dapat dengan mudah menumpuk di dalam maupun luar ruangan. Hal ini dinilai dapat menambah potensi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Data pemantauan demam berdarah oleh NEA dari bulan April hingga Juni 2026 mengungkap beberapa tempat utama perkembangbiakan nyamuk di area publik seperti saluran air tepi yang tertutup, wadah bekas dan perangkap selokan.

El Nino tahun ini diperkirakan akan membawa cuaca yang lebih panas dan kering dari bulan Juni hingga Oktober di Singapura, bertepatan dengan puncak demam berdarah yang biasanya terjadi dari Mei hingga Oktober.

Di tengah cuaca ekstrem dan kondisi yang tidak bisa ditebak, para pakar mengkhawatirkan siklus hidup sejumlah hewan liar, terutama serangga.

Menurut Eleanor Slade selaku Associate Professor di Asian School of the Environment, El Nino yang semakin kuat bisa membuat serangga kewalahan, gagal beradaptasi, bahkan tidak bisa bertahan hidup.

Meski banyak serangga yang cukup tangguh, hewan yang tidak terbiasa hidup berdampingan dengan manusia menjadi jauh lebih rentan tanpa kepastian sumber makanan. Pasalnya, hal ini dapat memutus rantai makanan alaminya.

Hewan liar yang tidak terbiasa hidup dekat dengan manusia sangat rentan terhadap cuaca El Nino yang tidak terduga.

Cuaca yang berubah-ubah ini bisa mengganggu ketersediaan makanan dan siklus hidup tumbuhan maupun hewan. Hal ini dinilai membuat keseimbangan alam dan rantai makanan di Singapura menjadi kacau.

Menurut Slade, cuaca panas dan kabut juga dapat memengaruhi siklus hidup serangga, menyebabkan kepunahan seiring berjalannya waktu karena populasinya yang kesulitan bertahan. Jika populasi serangga hancur, maka akan berefek domino pada burung, kelelawar, mamalia dan pemakan serangga lainnya.

"Akan selalu ada spesies yang bertahan hidup, dan kelompok satwa baru akan terbentuk, tetapi kelompok seperti apa itu dan apakah mereka berguna bagi kita adalah hal yang berbeda," kata Slade.

(nad/lom)
placeholder