Astronom Temukan Bintang Aneh Berwarna Hijau untuk Pertama Kalinya

CNN Indonesia
Minggu, 18 Okt 2026 04:30 WIB
Astronom mengidentifikasi bintang hijau pertama, katai putih WD J1330+6435, yang berubah warna usai menelan puing planet di sekitarnya. (REUTERS/Mark A. Garlick/University of Wa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Astronom untuk pertama kalinya mengidentifikasi bintang berwarna hijau. Bintang itu merupakan katai putih (white dwarf) yang berubah menjadi hijau chartreuse, atau hijau kekuningan, setelah menelan puing batuan dari planet-planet yang dulu mengorbitnya.

Bintang bernama WD J1330+6435 ini berada di galaksi Bima Sakti, sekitar 280 tahun cahaya dari Bumi di rasi Draco, dikutip Reuters, Jumat (16/10).

"Kami pertama kali tertarik pada katai putih ini karena serpihan material planet telah jatuh ke permukaannya, memperkaya lapisan luarnya dengan unsur-unsur termasuk kalsium, litium, dan terutama natrium," kata Mark Hollands, astrofisikawan University of Warwick, Inggris, sekaligus penulis utama studi yang terbit di jurnal RAS Techniques and Instruments.

Warna bintang umumnya ditentukan suhunya, dari oranye untuk bintang yang lebih dingin hingga biru pucat untuk yang terpanas.

Namun, rumus ini berbeda untuk katai putih, yakni inti sisa bintang bermassa rendah hingga menengah yang telah kehabisan bahan bakar nuklir dan melepaskan lapisan luarnya.

Dihantam atom helium

Pada bintang normal, natrium menyerap satu panjang gelombang oranye yang sangat spesifik, sama dengan oranye yang memberi warna khas lampu jalan natrium.

Menurut Hollands, kepadatan katai putih ini begitu tinggi sehingga atom natrium terus dihantam atom helium dan tingkat energinya berubah.

"Hasil akhirnya, atom natrium tidak lagi menyerap satu panjang gelombang oranye yang sangat sempit; mereka menyerap panjang gelombang kuning, oranye, dan sebagian merah. Yang tersisa adalah bintang dengan pendar hijau kekuningan yang indah, sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada bintang mirip Matahari," ujar Hollands.

Boris Gänsicke, astrofisikawan University of Warwick yang juga rekan penulis studi, menjelaskan katai putih seukuran Bumi tetapi sangat padat, sehingga sedikit natrium saja cukup menghalangi banyak cahaya oranye.

Peneliti mempelajari 151 katai putih dalam radius sekitar 65 tahun cahaya dari Bumi.

Salah satunya, WD J1011+2845, menunjukkan warna merah muda salmon yang kemungkinan paling merah di antara bintang yang diketahui. Bintang di rasi Leo Minor yang berjarak 48 tahun cahaya ini diwarnai karbon dari bagian dalamnya.

Warna katai putih terbagi menurut komposisi atmosfernya. Yang kaya karbon cenderung merah muda atau ungu, sedangkan yang diperkaya puing planet condong ke kuning.

Katai putih bersuhu lebih rendah dengan atmosfer campuran hidrogen dan helium cenderung sian atau biru pucat. Secara keseluruhan, warnanya mencakup hampir seluruh spektrum.

"Pada akhirnya, semua ini sangat mirip dengan pencampuran warna di palet seorang pelukis. Mereka memulai dengan beberapa warna dasar, lalu mencampurnya untuk membentuk warna apa pun yang mereka butuhkan untuk lukisan. Ambil sebagian warna yang masuk ke campuran itu, maka hasilnya akan berubah," tutur Gänsicke.

(fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK