2 Tahun Prabowo-Gibran dan Upaya Pemerataan Internet Dalam Negeri
Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming terus menggenjot pemerataan akses internet di Indonesia. Meski cakupan internet diklaim sudah menjangkau 98 persen desa dan kelurahan, sekitar 2.000 desa masih belum terhubung, dengan wilayah Papua menjadi salah satu tantangan terbesar.
Sejumlah upaya ditempuh pemerintah untuk memperluas konektivitas, mulai dari pembangunan infrastruktur di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), hingga lelang frekuensi untuk mendorong layanan internet yang lebih cepat dan terjangkau.
Berdasarkan laporan dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), coverage internet kini sudah menjangkau 98 persen wilayah Tanah Air dengan total sekitar 83.000 desa dan kelurahan sudah terkoneksi internet.
Meski demikian, masih ada sekitar 2.000 desa yang belum terjangkau atau menjadi blankspot. Papua disebut sebagai wilayah dengan blankspot terbanyak.
"Sekarang posisinya di seluruh Indonesia, ini totalnya ada sekitar 83.000 desa dan kelurahan, itu hampir 98 persen sudah ter-cover (internet)," ujar Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar dalam acara Bakti Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8).
Dalam upaya memberikan pemerataan akses internet, BAKTI turut menghadirkan coverage internet di wilayah 3T, dengan beberapa infrastruktur seperti base transceiver station (BTS) 4G, jaringan serat optik Palapa Ring, hingga Satelit Republik Indonesia (Satria-1) dengan kapasitas 150 Gbps.
Saat ini, upaya BAKTI telah menghadirkan akses internet di 3.864 titik layanan publik dan sinyal 4G di 6.747 desa.
Akses internet juga telah diberikan di lebih dari 31.000 lokasi di berbagai wilayah Indonesia. Konektivitas ini mencakup sektor pendidikan dengan persentase sekitar 68 persen, kesehatan dengan persentase 5,89 persen untuk mendukung e-government.
Tak hanya pendidikan dan kesehatan, sekitar 19,9 persen lokasi merupakan kantor pemerintahan dan pusat kegiatan masyarakat. Infrastruktur ini dimanfaatkan di pasar tradisional, tempat ibadah, pos pertahanan dan keamanan, lokasi usaha, hingga fasilitas transportasi publik.
Sementara itu, Palapa Ring yang membentang sepanjang 12.148 kilometer telah melayani 131 lokasi titik Network Operation Center (NOC) di 57 kabupaten/kota non-komersial.
Menurut Fadhilah, pembangunan konektivitas di wilayah 3T harus diarahkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah infrastruktur, tetapi juga dari tingkat pemanfaatannya.
Data tersebut diperkuat dengan survei terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2026 yang menyebut pengguna internet di Indonesia menjadi 81,76 persen, atau naik 6 juta jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.
Hasil survei APJII turut menemukan tingkat penetrasi internet Indonesia pada 2026 menjangkau 235 juta jiwa dari total populasi Indonesia sebanyak 287 juta jiwa.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 80,66 persen atau sekitar 229 juta jiwa. Peningkatan ini memperlihatkan bahwa internet telah menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia di berbagai sektor kehidupan.
Untuk mengatasi masalah pemerataan ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar berbagai program selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Berikut upaya yang mereka lakukan.
Lelang frekuensi 1,4GHz
Pada tahun 2025, Komdigi melakukan lelang frekuensi 1,4GHz yang menjadi salah satu cara pemerintah mengejar misi internet cepat 100Mbps yang murah. Spektrum ini dialokasikan Komdigi untuk menghidupkan kembali layanan broadband wireless acess (BWA) bagi jaringan tetap lokal berbasis packet switched.
Hak penggunaan spektrum diberikan dalam bentuk Izin Pita Frekuensi Radio (IPFR) dengan wilayah layanan berdasarkan regional. Hasil lelang ini dimenangkan oleh MyRepublic dan Surge (WIFI).
Setiap pemenang berhak mengoperasikan 80 MHz pita frekuensi di rentang 1432-1512 MHz di masing-masing regional selama 10 tahun.
Keduanya telah mengeksekusi frekuensi yang dimenangkan dan menggelar layanan internet murah dengan kecepatan hingga 100Mbps.