Jakarta, CNN Indonesia -- Gunung Everest yang berada di Nepal selama ini dikenal sebagai gunung tertinggi di dunia, dengan ketinggian 8.849 meter di atas permukaan laut. Namun, adakah gunung yang lebih tinggi dari Everest?
Jawabannya masih menjadi misteri. Meski demikian, para ahli menyatakan bahwa sejumlah petunjuk geologi dapat membantu memperkirakan lokasi puncak-puncak gunung tertinggi pada masa lampau.
Para ahli geologi belum memiliki data yang cukup terperinci untuk menentukan secara pasti gunung tertinggi ratusan juta tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sayangnya, kita tidak akan pernah bisa mendapatkan tingkat perincian seperti itu," kata profesor geologi di University of Adelaide, Australia kepada Live Science pada Sabtu (17/10).
Namun, petunjuk dari sisa-sisa sedimen yang terperangkap di dalam kerak Bumi memberikan gambaran tentang kemegahan puncak dan gunung bersalju pada masa purba.
Para ilmuwan mempelajari lapisan kerak tersebut untuk mengetahui seberapa dalam lapisan itu membentang. Informasi ini dapat membantu mengungkap perkiraan ketinggian gunung-gunung purba.
Gunung terbentuk dari kerak benua yang terdorong ke atas ketika lempeng tektonik perlahan bertabrakan. Kerak ini sangat berat dan memiliki bagian yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.
Puncak-puncak gunung yang sangat tinggi seperti Everest, ditopang oleh bagian kerak yang berada jauh di bawah permukaan Bumi.
Ketika sebagian kerak terdorong ke atas hingga membentuk puncak gunung, sebagian lainnya juga terdorong jauh ke bawah permukaan.
Collins dan Ziyi Zihu, ahli geokimia dari Curtin University di Australia membandingkan gunung dengan gunung es, yang hanya memperlihatkan sebagian kecil dari keseluruhan bagiannya di atas permukaan.
"Kita dapat berpendapat atau memperkirakan bahwa [gunung terbesar] berada di wilayah yang memiliki bagian kerak yang menjorok jauh ke bawah," kata Zhu.
Sebagai contoh, para ahli geologi memperkirakan bahwa kerak Bumi di bawah Himalaya membentang hingga kedalaman 50 mil atau 80 kilometer, sedangkan ketinggian Everest mencapai 29.000 kaki.
Dengan demikian, gunung tertinggi di dunia ini paling banyak hanya mewakili sekitar 14 persen dari keseluruhan massa batuan yang menjadi bagian darinya. Hal ini menunjukkan bahwa ada batas ketinggian yang dapat dicapai sebuah gunung sebelum akhirnya runtuh akibat beratnya sendiri.
Pegunungan Himalaya mulai terbentuk sekitar 50 juta hingga 40 juta tahun lalu akibat tumbukan antara lempeng benua India dan Eurasia.
Dalam sejarah pembentukan gunung, Himalaya tergolong relatif muda. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pegunungan tersebut masih sangat tinggi.
Gunung-gunung tertinggi dan memiliki bentuk puncak terjal mengalami erosi dengan cepat seiring waktu. Meski begitu, Himalaya masih terus bertambah tinggi karena kedua lempeng tersebut terus bertabrakan.
Jejak pegunungan purba raksasa
Namun, tumbukan antarbenua seperti ini telah terjadi berkali-kali sebelumnya. Pegunungan Super Transgondwana menjadi salah satu contohnya.
Gondwana merupakan rangkaian pegunungan purba yang dahulu berada di wilayah yang kini menjadi bagian dari Afrika Timur, mulai terbentuk sekitar 650 juta tahun lalu. Proses ini terjadi ketika Afrika dan Amerika Selatan bertabrakan dengan wilayah Arabia, India, Australia, dan Antartika hingga membentuk superbenua Gondwana.
Kemudian, Gondwana terpecah kembali. Meski demikian, bukti keberadaan pegunungan tersebut masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah seperti India bagian selatan, Sri Lanka, Tanzania dan Kenya.
Sejumlah bukti tersebut menunjukkan bahwa panjang rangkaian pegunungan tersebut mencapai tiga kali panjang Himalaya.
"Jika berjalan-jalan di wilayah itu sekarang, kita dapat melihat batuan yang dahulu berada di bagian dasar rangkaian pegunungan ini," kata Collins.
Secara rata-rata, ia memperkirakan kerak Bumi di wilayah tersebut lebih dalam daripada kerak Bumi di bawah Himalaya atau bahkan lebih besar.
Lapisan kerak yang ditemukan di wilayah-wilayah tersebut juga memberikan petunjuk terkait ketinggian pegunungan tersebut. Beberapa bagian kerak membentang hingga kedalaman 18 mil atau 30 kilometer, meskipun telah mengalami erosi selama sekitar setengah miliar tahun.
Misteri Batas Ketinggian Gunung Masa Lalu
Gunung Everest dikenal sebagai yang tertinggi, namun para ahli geologi mencari jejak gunung purba yang mungkin lebih tinggi. Temukan misteri ketinggian gunung! (Foto: AFP/THIBAUT MAROT)
"Pada suatu masa, lapisan-lapisan tersebut kemungkinan berada di tengah kolom kerak yang kedalamannya mencapai 60 kilometer (37 mil)," kata Collins.
Dengan demikian, gunung-gunung yang berada di atas bagian dasar tersebut kemungkinan memiliki ketinggian setara dengan Gunung Everest.
Di Himalaya, gunung-gunung tertinggi berada di sekitar tepi Daratan Tertinggi Tibet. Daratan ini merupakan wilayah dengan elevasi tertinggi di planet ini, yaitu rata-rata sekitar 3,7 mil atau 6 kilometer di atas permukaan laut.
Menurut Collins, rangkaian Pegunungan Transgondwana kemungkinan memiliki dataran tertinggi serupa di sekitar wilayah yang kini menjadi bagian selatan Madagaskar.
Jika demikian, tepi daratan tinggi tersebut kemungkinan membentang hingga Madagaskar bagian timur, India bagian selatan, dan Antartika bagian timur.
Misteri batas ketinggian gunung masa lalu
Kandidat pegunungan tertinggi lainnya adalah Pegunungan Greenvile yang terbentuk seiring dengan pembentukan superbenua Rodinia sekitar 1,3 miliar tahun lalu. Sisa-sisa pegunungan ini dapat ditemukan di sekitar Ontario bagian tenggara dan Vermont bagian barat laut.
Menurut Collins, informasi mengenai rangkaian pegunungan yang telah punah ini masih terbatas. Sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa ketinggiannya mungkin tidak menyamapi Pegunungan Transgondwana ataupun Himalaya.
Sementara itu, sekitar 2 miliar tahun lalu, pembentukan superbenua Nuna, yang juga dikenal sebagai Columbia, turut meninggalkan bukti keberadaan pegunungan yang sangat besar.
Dalam penelitiannya, Zhu menemukan bukti keberadaan pegunungan raksasa tersebut dengan memeriksa komposisi kristal zirkon yang tersisa di dalam kerak Bumi, tepat di bawah rangkaian pegunungan yang kini telah hilang tersebut.
Namun demikian, jika menelusuri sejarah Bumi lebih jauh lagi, gambaran yang diperoleh menjadi semakin tidak jelas.
Menurut Collins, ketika Bumi masih lebih panas, gunung-gunung kemungkinan tidak dapat tumbuh setinggi sekarang. Pasalnya, kerak Bumi yang lebih hangat hanya mampu menopang beban yang lebih ringan.
Lempeng benua dan batuan yang stabil baru mulai terbentuk sekitar 4 miliar tahun lalu. Setelah itu, masih diperlukan waktu ratusan juta tahun lagi hingga benua-benua besar terbentuk.
Menurut Zhu, rangkaian pegunungan Nuna, Transgondwana, dan Himalaya saat ini merupakan kandidat terbaik untuk menyandang predikat sebagai pegunungan dengan puncak tertinggi yang pernah ada.
Kendati demikian, menentukan secara pasti satu puncak gunung tertinggi pada masa lampau kemungkinan tidak dapat dilakukan, setidaknya dengan metode ilmiah yang tersedia saat ini.
"Ini masih menjadi pertanyaan terbuka," tutup Zhu.