Apa Itu Tipping Point dan Ancaman bagi Gambut Indonesia?
Fenomena tipping point atau titik krisis semakin menjadi perhatian ilmuwan iklim dan lingkungan. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika suatu sistem alam melewati ambang tertentu dan mengalami perubahan yang sulit dihentikan atau dibalikkan.
Isu ini menjadi salah satu sorotan dalam Konferensi Global Tipping Points 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia. Indonesia termasuk negara yang perlu mewaspadai fenomena tersebut karena sejumlah ekosistem pentingnya menghadapi kerusakan serius, mulai dari hutan gambut hingga terumbu karang.
Lantas, apa sebenarnya tipping point dan mengapa kondisi ini menjadi ancaman bagi ekosistem Indonesia?
Sebagian ahli menerjemahkan tipping point sebagai "titik kritis tanpa balik". Fenomena ini bisa diilustrasikan seperti perahu yang semakin miring hingga melewati batas keseimbangannya. Setelah melewati batas tersebut, perahu akan terus terguling meskipun prosesnya belum langsung berakhir.
Dalam konteks lingkungan, kondisi serupa dapat terjadi pada lapisan es raksasa (ice sheet). Pencairan es dapat berlangsung selama ratusan hingga ribuan tahun akibat pemanasan. Namun, jika sistem es telah melewati ambang tertentu, pencairan dapat terus berlangsung meskipun pemanasan tidak lagi meningkat.
Pencairan lapisan es ini dapat dipicu oleh kenaikan suhu. Namun, ketika suatu ambang terlampaui, pencairan bisa terus berlangsung meskipun pemanasan tidak lagi meningkat.
Istilah "tipping point" mengesankan perubahan terjadi mendadak, padahal banyak elemen alam (termasuk lapisan es, gambut atau terumbu karang) berubah lambat. Jadi "titik" itu bukan soal waktu, tapi soal kondisi.
Namun, yang terjadi di titik itu adalah nasibnya sudah "terkunci", walaupun hasilnya baru terlihat di kemudian hari. Misalnya, lapisan es raksasa bisa butuh ratusan sampai ribuan tahun untuk mencair, tapi kalau titiknya sudah terlewati, ia akan tetap mencair.
Sebagian ilmuwan di Indonesia meyakini, batas tipping points itu sebagian sudah lewat.
Titik krisis gambut Indonesia
Salah satu ekosistem alami paling berharga di Indonesia (dan dunia) adalah hutan gambut yang luasnya menurut pemerintah Indonesia mencapai 13,7 juta hektar pada tahun 2021. Gambut sering disebut sebagai "lahan" namun pada dasarnya merupakan ekosistem hutan dengan tumbuhan di atasnya dan lumut yang sudah berusia puluhan ribu tahun di bawahnya.
Kerusakan hutan gambut sudah mulai terjadi sejak era Orde Baru ketika pembalakan hutan terjadi sangat masif. Tahun 1970-an, wilayah bergambut ini menjadi salah satu tujuan utama transmigrasi dari Jawa.
Puncaknya saat pemerintah Presiden Suharto memerintahkan pembukaan sejuta hektar hutan gambut untuk proyek pertanian padi di Kalimantan dan Sumatera pada tahun 1995-1996. Penebangan kayu hutan gambut dilakukan besar-besaran, hingga menurut penelitian tahun 2024 mengungkap sekitar 60-70 persen tanaman kayu di hutan gambut Indonesia sudah habis.
Meski tak ada lagi kayunya, hutan gambut tak bisa langsung ditanami. Bagian bawah tanah hutan gambut dipenuhi oleh sisa bahan organik yang menumpuk ribuan tahun dan bersifat menyimpan air seperti spons. Kondisi alami tersebut tidak memungkinkan tumbuhnya tanaman pangan, terutama padi.
Pemerintah Orde Baru membuat proyek drainase besar-besaran, sepanjang ribuan kilometer saluran kanal besar dan kecil agar air dari bawah tanah terkumpul dan hutan gambut menjadi kering dan bisa ditanami.
Namun setelah drainase terbentuk, nyatanya proyek sejuta hektar cetak sawah baru itu gagal. Lahan yang sudah jadi kering kemudian sebagian besar diubah menjadi kebun kelapa sawit. Puluhan tahun sejak Suharto lengser, pola mengubah gambut jadi perkebunan sawit makin meluas.
Selain menyimpan air, gambut juga punya kemampuan istimewa menyimpan emisi karbon. Daya simpan gambut mencapai lebih dari 10 kali lebih besar daripada hutan tropis daratan kering biasa.
Sebaliknya, jika hutan biasa ditebang, karbon yang lepas hanya berasal dari pohonnya. Namun, jika lahan gambut dikeringkan (melalui pembuatan kanal atau dibakar untuk perkebunan), lapisan karbon bawah tanah yang tersimpan selama ribuan tahun akan teroksidasi dan lepas secara masif ke atmosfer. Lahan yang tadinya berfungsi sebagai carbon sink (penyerap karbon) seketika berubah menjadi carbon source (sumber emisi karbon) raksasa. Ilmuwan Kjell Kühne dari University of Leeds, Inggris menyebut fenomena ini sebagai carbon bombs (bom karbon).
Pelepasan emisi tersebut selanjutnya akan berkontribusi pada bumi yang makin panas dan akibatnya gambut makin mudah terbakar lagi, sebuah lingkaran berbahaya yang saat ini terjadi.
Profesor Gusti Zakaria Anshari, guru Besar Ilmu Tanah di Universitas Tanjungpura di Kalimantan Barat dan peneliti lahan gambut tropis terkemuka dunia menduga bahwa Indonesia telah melewati titik kritis (tipping point) lahan gambutnya. Titik ini ditandai dengan kerusakan yang terus berlanjut dan membuat gambut tidak akan pernah bisa pulih sepenuhnya seperti sedia kala, bahkan jika kerusakan tersebut dihentikan.
"Kelapa sawit yang ditanam di lahan gambut, sebagian daunnya mengering, tidak ada airnya lagi. Itu menunjukkan daya simpan air di gambut itu sudah habis. Jadi sudah kritis. Sementara kalau musim kering, cari airnya sulit. Sungai pada mengering. Itu lah kalau fungsi gambutnya sudah hilang. Paling penting ini, fungsi-fungsi perubahan itu, seperti gambut mengering, emisi karbon yang sangat tinggi. Menurut laporan (lembaga Lingkungan PBB) UNEP juga, itu sifatnya irreversible (tak bisa dipulihkan)," kata Zakaria saat dihubungi CNN Indonesia.
Di luar gambut, berbagai sistem penyangga planet lainnya yang ada di Indonesia. Antara lain ekosistem hutan hujan tropis dan terumbu karang di lautan Indonesia, keduanya juga mengalami kerusakan parah dan nyaris tak mungkin dipulihkan. Dalam studi tentang terumbu karang, ilmuwan dunia meyakini tipping point untuk karang sudah terlewati.
Bukan cuma di Indonesia, yang memiliki sekitar seperlima kekayaan karang dunia, pemutihan karang besar-besaran terjadi tahun 2016 dan 2023-2024. Karang butuh sekitar 10-15 tahun untuk pulih sehingga dengan siklus pemutihan yang begitu cepat, terumbu karang tidak akan bisa pulih selamanya.
Ilmuwan juga menyorot gletser di Puncak Jaya, Papua sebagai salah satu indikator tipping point lainnya. Salju abadi Cartensz ini dipekirakan akan habis mencair dalam beberapa tahun ke depan.
(dsf/dmi)