Robot humaniod besutan China diperkirakan bakal makin canggih usai para pengembang berlomba mengembangkan otak berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI).
Seiring persaingan yang membuat harga perangkat keras semakin murah, para produsen robot mulai menyadari bahwa keuntungan bukan lagi berasal dari perangkat keras, melainkan kecerdasan yang menggerakkan robot tersebut.
"Para produsen robot telah menyimpulkan bahwa keuntungan tidak akan datang dari perangkat keras, tetapi dari otaknya," kata Dermot McGrath, pendiri perusahaan konsultan teknologi ZenGen Labs yang berbasis di Shanghai, dikutip dari Reuters, Senin (2/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengembangan otak pada robot ini disebut embodied AI, yaitu teknologi yang berfokus pada pengembangan "otak" alias perangkat lunak supaya robot mampu memahami lingkungan di sekitarnya, mempelajari tugas-tugas baru dan beradaptasi tanpa harus diprogram untuk setiap pekerjaan.
Laporan dari Reuters menyebut bahwa sektor embodied AI membuka babak baru bagi persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan China. Perusahaan-perusahaan AS disebut masih unggul dalam beberapa sistem AI robot canggih.
Pengembang di China berharap kekuatan industri manufaktur dan akses terhadap data pelatihan dari dunia nyata dapat membantu mereka menyaingi para pesaingnya di AS.
Hal ini disampaikan oleh para pendiri dan petingi dari lima perusahaan robotika China, serta jumlah analis industri dalam sebuah wawancara bersama Reuters.
Negara yang paling berhasil menggabungkan AI dengan mesin dinilai berpotensi memiliki keunggulan dalam mengotomatisasi pabrik dan logistik. Pengembangan ini juga berpotensi mengubah produktivitas industri serta pasar teknologi robotika global.
"Memang, otak merupakan bagian terlemah dalam keseluruhan sistem robotika," kata salah satu pendiri Spirit AI, Gao Yang.
Laporan ini turut menyebut perubahan fokus pada pengembangan robot ini mendorong lonjakan investasi di bidang embodied AI.
Menurut data perusahaan riset ITjuzi, perusahaan embodied AI di China berhasil menghimpun pendanaan sebesar 93,5 miliar yuan atau US$13 miliar melalui 322 kesepakatan investasi pada paruh pertama 2026. Angka ini meningkat lima kali lipat dibandingkan periode yang saama tahun sebelumnya.
Kemudian, pendanaan kini semakin banyak mengalir ke perusahaan rintisan yang secara khusus mengembangkan kecerdasan robot selain kepada produsen robot.
Persaingan pengembangan AI
Sejumlah perusahaan rintisan di AS, termasuk Physical Intelligence, Skild AI dan Generalist, tengah mengembangkan perangkat lunak yang dirancang untuk mengajarkan berbagai keterampilan kepada robot tanpa perlu melakukan pelatihan ulang secara ekstensif.
Generalist menyebut model GEN-1.5 miliknya mampu menyelesaikan sekitar 60 persen tugas sederhana setelah melihat demonstrasi selama 3 hingga 12 detik.
Sementara itu, perusahaan asal China, X Square, telah mempublikasikan penelitan yang menunjukkan bahwa robot dapat mempelajari keterampilan menangani benda hannya dengan melihat satu video demonstrasi manusia, tanpa perlu melatih ulang model untuk setiap tugas.
"Laboratorium AI terkemuka di AS telah menetapkan standar yang cukup tinggi, terutama dalam hal seberapa cepat robot dapat mempelajari dan menggunakan keterampilan yang dimilikinya," kata konsultan robotika Georg Stieler.
Stieler menilai sejumlah perusahaan rintisan terkuat di China merupakan pesaing yang patut diperhitungkan.
Lebih lanjut, pengembang di AS dinilai memiliki keuntungan dari kemajuan penelitian AI dan akses yang lebih luas terhadap chip komputasi bertenaga tinggi. Namun, perusahaan-perusahaan China dapat bekerja sama secara langsung dengan produsen robot dan pelanggan industri untuk menguji serta meningkatkan kemampuan sistem mereka.
Sejumlah perusahaan rintisan khusus di China seperti X Square, Galaxea, dan Spirit AI kini telah mencapai valuasi sekitar US$3 miliar.
"Kami ingin robot beralih dari sekadar digerakkan oleh kode menjadi digerakkan oleh akal sehat," kata Co-Founder sekaligus COO X Square, Yang Qian.
Berbeda dengan chatbot yang mempelajari teks dalam jumlah yang besar di internet, robot membutuhkan contoh interaksi fisik. Misalnya, bagaimana cara menggenggam benda hingga menangani kabel yang lentur.
Perusahaan-perusahaan China menerapkan berbagai pendekatan untuk mengumpulkan informasi tersebut. Sebagian mempekerjakan orang untuk memperagakan suatu tugas, sementara yang lain menggunakan simulasi komputer dan ada pula perusahaan yang menggabungkan kedua metode tersebut.
Persaingan di bidang ini masih sangat ketat dan belum ada satu perusahaan pun yang berhasil menjadi pemimpin pasar secara jelas.
Sebagai contoh, Gao menyebut Spirit AI telah mempekerjakan sekitar 1.000 orang untuk merekam berbagai aktivitas sehari-hari dan pekerjaan industri.
Sementara itu, ACE Robotics menggunakan sensor yang dikenakan pada tubuh untuk merekam gerakan pekerjaan dan kekuatan genggaman tangan merreka saat bekerja di toko dan hotel.
Unit robotika milik Ant Group, Robbyant, mengatakan telah melatih model AI menggunakan 160.000 jam materi pelatihan. Jumlah tersebut mencakup 50.000 jam gerakan roboat yang diarahkan oleh manusia.
Perusahaan tersebut juga melatih perangkat lunaknya menggunakan 20 konfigurasi robot dari 17 merek berbeda. Tujuannya agar satu sistem AI dapat digunakan pada berbagai jenis mesin.
Robbyant mengatakan robot buatannya telah digunakan untuk menangani pesanan di dua apotek di Shanghai. Meski demikian, staf manusia tetap memeriksa obat-obatan sebelum pesanan dikirimkan.
Kendati demikian, target jangka panjang industri ini ialah mengembangkan perangkat lunak yang mampu mempelajari pekerjaan baru tanpa membutuhkan banyak penyesuaian.
Keberhasilan teknologi ini akan bergantung pada kemampuan satu sistem AI untuk bekerja di berbagai perusahaan dan lingkungan kerja yang berbeda.
Untuk mencapainya, perusahaan perlu melatih model yang semakin canggih dengan dukungan chip berkemampuan tinggi.
Perusahaan-perusahaan China berupaya mengurangi kebutuhan komputasi melalui pengembangan model yang lebih efisien, penggunaan data sintesis dan simulasi.
(lmy/lmy)

