BMKG Dalami Penyebab Es Batu 'Raksasa' Timpa Rumah Warga Bantul

CNN Indonesia
Selasa, 03 Nov 2026 08:45 WIB
BMKG Yogyakarta menjelaskan fenomena bongkahan es berukuran 20 cm yang jatuh di Bantul. Hujan ringan terpantau, namun penyebab es masih diselidiki. (Foto: Abi Hafiz)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menjelaskan kondisi cuaca dan atmosfer saat bongkahan es misterius berukuran sekitar 20 sentimeter menimpa salah satu rumah warga di Dusun Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Senin (2/11) pagi.

Forecaster on duty BMKG Yogyakarta, Heri, menjelaskan, berdasarkan pemantauan radar cuaca, terdapat potensi hujan ringan hingga sedang di wilayah sekitar Bantul pada saat waktu kejadian atau sekitar pukul 08.00 WIB.

Namun, area yang terpantau mengalami potensi hujan berada di sebelah barat laut dari lokasi rumah yang tertimpa bongkahan es.

"Dan ada lagi jaraknya lebih jauh lagi di utara itu ada hujan ringan hingga sedang juga di wilayahnya jauh lebih ke utara," kata Heri saat dihubungi, Senin (2/11).

Sementara itu, berdasarkan data radar, hujan di wilayah Pandak baru terpantau sekitar pukul 09.00 WIB atau satu jam setelah waktu kejadian yang dilaporkan warga.

Heri menerangkan, kondisi atmosfer DIY saat ini turut dipengaruhi gangguan atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO). Fenomena tersebut memiliki rentang pergerakan sekitar 20 hingga 40 hari dan dapat memengaruhi kondisi cuaca di wilayah yang dilaluinya.

Selain itu, hasil pemantauan menunjukkan tingkat kelembapan udara di wilayah DIY berada pada kisaran 50 hingga 90 persen, khususnya pada lapisan atmosfer dengan ketinggian sekitar 1,5 hingga 3 kilometer.

Kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya hujan ringan hingga sedang di sejumlah wilayah DIY. Meski demikian, BMKG belum dapat memastikan apakah gangguan atmosfer tersebut berkaitan langsung dengan kemunculan bongkahan es di Dusun Jodog.

Heri menjelaskan fenomena tersebut merupakan salah satu gangguan atmosfer yang kerap melintasi wilayah Indonesia. Namun, kemunculannya tidak serta-merta menunjukkan kondisi awan yang ekstrem.

"Untuk memastikan suatu fenomena yang skalanya apa ya, kecil dan lokal seperti itu, ya itu analisisnya lebih dalam lagi. Perlu data yang lebih lanjut lagi. Untuk sementara dari citra radar itu yang bisa kita lihat, belum bisa lebih detail lagi," bebernya.

Terlebih, DIY saat ini mulai memasuki periode peralihan musim. Berdasarkan pengamatan BMKG, kondisi awan pada pagi hari saat kejadian dilaporkan tidak menunjukkan perkembangan yang terlalu besar.

Butuh proses ekstrem

Soal ukuran bongkahan es yang dilaporkan mencapai sekitar 20 sentimeter, Heri mengatakan pembentukan es berukuran besar membutuhkan proses dinamika atmosfer yang kuat.

Dalam proses tersebut, bongkahan es harus mengalami pergerakan berulang dalam awan hingga ukurannya membesar. Kondisi ini membutuhkan pertumbuhan awan yang sangat besar serta dinamika atmosfer yang mendukung.

"Maksudnya sampai segitu besarnya itu itu memang perlu kondisi menurut analisis sementara gitu ya, perlu memang proses awan yang sangat besar terus esnya itu di angkat ke atas, angkat ke bawah oleh dinamika atmosfer gitu sampai jadi besar," jelas Heri.

Menurutnya, apabila memang terjadi proses pembentukan es dengan ukuran sebesar itu, semestinya terdapat indikasi kondisi atmosfer yang lebih ekstrem dan berpotensi berdampak di beberapa lokasi, bukan hanya satu titik.

"Tapi kondisi pagi ini tuh kok kami enggak melihat ada yang terlalu yang sangat ekstrem. Hanya kondisi umum," kata Heri.

"Dari dari sisi hujannya aja hujannya adanya di barat laut dari lokasi kejadian dan itu hanya ringan hingga sedang aja, awannya juga enggak terlalu tinggi gitu," ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, sebongkah es berdiameter sekitar 20 sentimeter dilaporkan menimpa rumah warga di RT 3 Dusun Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Senin (2/11/2026) sekitar pukul 08.00 WIB. Insiden tersebut menyebabkan bagian atap dan plafon rumah jebol. Bongkahan es diduga awalnya berukuran lebih besar sebelum pecah menjadi dua bagian besar dan sejumlah potongan kecil.

Kepala Dusun Jodog, Bayu Yunarto, mengatakan kejadian tersebut cukup janggal karena hanya satu rumah yang terdampak. Saat itu, kondisi langit di wilayah setempat memang mendung, tetapi tidak turun hujan air maupun hujan es. Beruntung, tidak ada korban karena rumah dalam keadaan kosong ketika bongkahan es jatuh.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan Logistik dan Peralatan BPBD Kabupaten Bantul, Antoni Hutagaol, menyatakan telah menerima laporan kejadian tersebut dan berkoordinasi dengan BMKG untuk menelusuri kemungkinan adanya fenomena hujan es.

Menurutnya, hujan es saat masa peralihan musim memang lazim terjadi, tetapi ukuran bongkahan yang dilaporkan kali ini jauh lebih besar dibandingkan fenomena serupa yang biasanya hanya sebesar bola pingpong.

Hingga kini, penyebab jatuhnya bongkahan es tersebut masih didalami lintas instansi. Pemerintah setempat juga belum menyimpulkan apakah terdapat unsur kesengajaan di balik peristiwa tersebut.

(kum/dmi)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK