Lawan HIV/AIDS Lewat Pemuda dan Keluarga

Deddy Sinaga, CNN Indonesia | Senin, 03/07/2017 18:17 WIB
Banyak pengidap HIV dan AIDS berasal dari kalangan pemuda. Karena itu, sebagai pemuda, kitalah yang terlebih dahulu bertindak. Sejumlah warga mengikuti aksi peringatan hari HIV/AIDS sedunia di Pantai Kuta, Bali, beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Bandung, CNN Indonesia -- Sudah cukup buruk bahwa orang-orang meninggal karena AIDS, tapi tidak ada yang harus mati karena ketidakperdulian - Elizabeth Taylor

Kata HIV dan AIDS memang nampak tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, sayangnya tidak semuanya mengerti dan paham akan kedua kata tersebut. HIV/AIDS kerap beriringan dikarenakan korelasi yang sangat erat di antara keduanya.

HIV merupakan kependekan dari Human Immunodeficiency Virus. HIV adalah suatu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Sederhananya, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun.


Penurunan kekebalan tubuh yang terjadi terus menerus menyebabkan defisiensi kekebalan tubuh. Sistem kekebalan dianggap defisiensi bila kekebalan tubuh tidak mampu lagi untuk melawan infeksi dan penyakit-penyakit yang menyerang tubuh.

Kondisi yang diakibatkan oleh virus HIV yakni munculnya penyakit AIDS. AIDS sendiri merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome, yang menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh.

Ironisnya bila kita melihat pada realitas, pengidap HIV/AIDS datang dari kalangan pemuda Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kesehatan RI mencatat pola penularan kasus HIV dalam 5 tahun terakhir (2010-2014) tidak berubah.

Angka menunjukkan para pengidap dari usia produktif 25-49 tahun sebagai pengidap tertinggi diikuti oleh golongan usia 20-24 tahun. Kasus AIDS pun memiliki keselarasan dengan pengidap HIV yakni memiliki pola yang cukup jelas. Sejak dilaporkan pada 1987 hingga 2014, pengidap AIDS tertinggi menyerang golongan usia produktif 20-29 tahun, diikuti oleh golongan 30-39 tahun dan 40-49 tahun.

Tentunya setelah membaca data tersebut, rasa prihatin dan cemas muncul dalam benak. Pemuda yang seharusnya menjadi harapan serta tolak ukur kemajuan suatu bangsa tergoyahkan dengan begitu dahsyatnya. Hal ini menjadi semacam peringatan besar bagi bangsa Indonesia.

Kita menyadari betul bahwa peran pemuda saat ini yang akan mempengaruhi masa depan bangsa ini. Tak terbayangkan bila kondisi seperti ini tetap bertahan bahkan berkembang, Indonesia akan semakin terancam di jurang kegelapan.

Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha secara efektif dan efisiensi guna menangani kasus-kasus tersebut. Usaha-usaha tersebut perlu dilakukan secara keseluruhan terutama oleh pemuda itu sendiri dan keluarga sebagai saluran pertama dan utama bagi seorang anak/individu.

Data memang menyebutkan bahwa usia produktif/mudalah sebagai pengidap HIV/AIDS tertinggi, maka dari itu unsur terdekat untuk membantu dalam usaha menanganinya adalah pemuda itu sendiri.

Sebagai generasi penerus, pemuda kerap dituntut untuk mengembangkan kualitas diri terutama dalam hal moral dan intelektual. Keduanya perlu ada pada setiap diri individu, karena merupakan satu kesatuan yang beriringan.

Moral berkaitan dengan perilaku dan tindak-tanduk pemuda yang sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat Indonesia. Selain itu, norma agama pun begitu lekat pengaruhnya terhadap moralitas pemuda. Moralitas memiliki hubungan searah dengan intelektualitas. Intelektual seorang pemuda yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun nonformal tidak akan berbuah hasil apapun bila tidak diikuti dengan moralitas sang pemuda.

Pemuda dianggap memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi sebuah tatanan masyartakat. Merekalah individu-individu dengan jiwa dan jasmani yang masih segar dan bergairah tinggi. Pemuda saat ini pun turut didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi, yang tentunya semakin mempermudah dalam mobilitas penanganan permasalahan negeri, termasuk HIV/AIDS.

Sinergitas antara pemuda dan teknologi dapat dikolaborasikan dalam bentuk kampanye anti HIV/AIDS. Telah kita pahami bahwa efektivitas di antara berjuang seorang diri dengan berjamaah akan memiliki dampak yang berbeda.

Pemuda menyadari betul bahwa organisasi sebagai usaha berjamaah menjadi salah satu wadah yang dapat menampung banyak aspirasi dan inspirasi. Dengan begitu, mendirikan organisasi terkait penanggulangan HIV/AIDS menjadi kekuatan tersendiri. Organisasi yang dibangun oleh pemuda, dari pemuda dan untuk pemuda.

Organisasi yang didirikan pun sifatnya perlu mencangkup lingkup nasional, hal ini dilatarbelakangi karena HIV/AIDS merupakan permasalahan nasional maka penanggulangannya pun perlu secara nasional yang dipimpin oleh pemuda. Jadi terdapat kantor pusat organisasi di suatu kota yang menaungi setiap organisasi pada tiap daerah di Indonesia. Dengan begitu persatuan yang dijunjung untuk menanggulangi dan menangani kasus ini akan berjalan lebih terarah dan jelas.

Konsep organisasi yang dibentuk adalah terkait usaha pencegahan HIV/AIDS sejak dini. Kita bisa membuat semacam website dan juga sosialisasi melalui media, seperti radio yang dilakukan secara berkelanjutan. Kita menggabungkan media dengan materi penanggulangan. Media yang dimaksud dikhususkan untuk pengembangan diri remaja. Karena HIV/AIDS bukanlah kasus yang terjadi begitu saja, tetapi melalui sebuah proses yang terkadang tidak disadari.

Selain menyampaikan kampanye dalam bentuk virtual, kita pun dapat membuat modul yang berisi materi yang terkait dengan pembahasan. Karena tidak semua kalangan di Indonesia dapat menyentuh internet atau gemar mendengarkan radio.

Modul tersebut dapat dicetak dan dibagikan kepada sekolah-sekolah. Mata pelajaran untuk tingkat SD hingga SMA belum ada yang memberikan pemahaman terkait persoalan remaja, dalam hal ini HIV/AIDS secara komprehensif. Padahal bila kita analisis, sebelum mencapai tahap HIV/AIDS terdapat serentetan perilaku yang menjuruskan pada jurang HIV/AIDS.

Perilaku-perilaku tersebut telah menyentuh dan mengancam sejak usia dini yang lagi-lagi sebagai efek dari perkembangan teknologi. Pornografi dan pornoaksi, modus perdagangan manusia melalui hubungan media sosial, narkoba hingga berujung pada HIV/AIDS. Hal-hal semacam ini perlu dilakukan sosialisasi yang sifatnya mendalam dan berkelanjutan.

Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo, 80 persen remaja di luar sekolah maupun di dalam sekolah perlu mendapatkan penjangkauan program pencegahan yang efektif.

Tentunya bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh pemuda tidak akan berjalan ekeftif bila tidak didukung oleh tataran masyarakat, dalam hal ini, tataran keluarga. Seperti yang telah dijelaskan di atas, keluarga merupakan media paling pertama dan utama bagi seorang individu.

Keluarga memiliki pengaruh besar bagi pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun moral individu. Oleh karena itu, akan lebih efektif bila orangtua membekali wawasan terkait HIV/AIDS sedini mungkin terhadap anaknya. Berikan materi yang sederhana dan mudah untuk dipahami.

Anak pada usia dini, hanya memerlukan informasi terkait apa itu HIV/AIDS, penyebab serta dampak buruk yang diakibatkannya. Setelah itu, tetap membimbing untuk hidup dengan sehat dan teratur. Dengan cara ini, seorang individu sudah memiliki bekal utama, yakni pemahaman sederhana dengan menggunakan kedekatan orangtua sebagai pendukung utama.

Keluarga akan mengalami tantangan baru dalam mendidik seorang anak, di saat sang anak telah memasuki tahap remaja. Seorang individu tergolong remaja bila telah memasuki usia 13 tahun dan berakhir pada usia ke 19-20.

Menurut Teori Perkembangan Keluarga yang dikemukakan Duvall, keluarga dengan anak remaja berada dalam posisi dilematis, mengingat anak sudah mulai menurun perhatiannya terhadap orang tua dibandingkan dengan teman sebayanya. Pada tahapan ini seringkali ditemukan perbedaan pendapat antara orang tua dan anak remaja, apabila hal ini tidak diselesaikan akan berdampak pada hubungan selanjutnya.

Tugas keluarga pada tahapan ini antara lain: memberikan perhatian lebih pada anak remaja, bersama-sama mendiskusikan tentang rencana sekolah ataupun kegiatan di luar sekolah, memberikan kebebasan dalam batasan tanggung jawab, mempertahankan komunikasi terbuka dua arah.

Orang tua harus semakin gencar dalam menanamkan moralitas dan intelektual pada sang anak. Usaha ini harus diterapkan dengan tingkat keseriusan yang tinggi, mengingat orang tualah yang bertanggung jawab langsung terhadap kehidupan seorang anak.

Selain memberikan pemahaman yang mendalam, orang tua pun perlu menjalankan fungsi pembimbingan dan pengawasan. Hal ini dapat dilakukan dengan menganalisis aktivitas apa saja yang dilakukan oleh sang anak tanpa mengganggu hak kebebasannya untuk berkembang. Pastikan sang anak jauh dari lingkungan yang dapat mengarahkan dan memberikan pengaruh buruk bagi psikologis sang anak.

Orang tua pun perlu untuk mengarahkan anak pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif dan mendukung perkembangan diri agar seimbang antara moralitas dan intelektualitas. Berikan arahan kepada anak untuk terlibat dalam organisasi pemuda terkait penanggulangan permasalahan remaja.

Hal ini akan mengecilkan potensi sang anak untuk masuk ke dalam lingkaran permasalahan remaja. Hal ini didasarkan pada kesadaran diri sebagai aktivis remaja dan individu yang memahami fungsinya selaku pemuda. Kegiatan tersebut diseimbangkan dengan mengikuti kegiatan yang sifatnya rohani. Hal ini sering luput dari pemikiran orang tua, padahal sifanya sangat urgent.

Etika dan moral manusia dalam menjalani kehidupan secara umum pasti diberikan di dalam agama. Karena pada dasarnya setiap agama pun mengajarkan kebaikan. Dengan begitu keselarasan moral dan intelek dapat beriringan dengan bersahaja.

Segala bentuk pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan oleh pemuda maupun orang tua tetap tidak menutup kemungkinan seorang individu tidak terjangkit vurus HIV/AIDS. Fasilitas dan sarana umum yang dinikmati banyak orang pun turut membuka kemungkinan tersebut.

Contoh sederhana, datang dari penggunaan jarum suntik di rumah sakit. Kita tidak pernah tahu apakah jarum tersebut telah disterilkan atau belum. Ditambah pihak rumah sakit berkemungkinan melakukan kesalahan dan kekeliruan dalam bertugas.

Oleh karena itu, orang tua perlu memahami pentingnya melakukan pengetesan HIV sejak dini. Hal ini didasarkan, sebagian besar orang yang terjangkit virus HIV tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi karena tidak ada gejala yang tampak setelah terjadinya infeksi awal. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menentukan HIV ada di dalam tubuh seseorang adalah melalui tes HIV.

Maka sudah selayaknya kita menyadari bahwa HIV/AIDS merupakan permasalahan nasional yang penanggulangannya pun harus bersifat nasional. Kita tidak hanya berpangku tangan pada lembaga pemerintah, seperti Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Kementerian Kesehatan, dan sebagainya.

Mereka merupakan orang-orang yang memiliki kewenangan yang bisa mengeluarkan kebijakan. Tapi akan lebih baik bila seluruh elemen masyarakat ikut berkontribusi melawan ganasnya cengkeraman HIV/AIDS. Dalam hal ini peranan keluarga sebagai unit pertama dan utama serta kepedulian pemuda sebagai tonggak penerus bangsa memiliki andil yang besar. Percayalah kepedulian memiliki keajaiban untuk melawan kenistaan.
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK