Suku Bauzi yang tinggal di tepi Sungai Mamberamo membuat api dengan cara memukul batu api pada ruas bambu kering. Akibat gesekan antara batu dengan bambu kering menghasilkan lentikan api yang langsung membakar bulu kering nibung (sejenis palem hutan) yang telah disiapkan sebelumnya.
Sementara itu suku Mairasi yang tinggal di Kaimana membuat api dengan menggunakan pecahan piring keramik yang dipukulkan dengan cepat pada ruas bambu kering. Pukulan ini menghasilkan api yang langsung membakar bulu palem hutan. Batu api dengan bulu nibung disimpan dalam wadah dari bambu kecil. Wadah bambu ini dibawa kemana pun mereka pergi beraktivitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk membuat api, kayu dengan bulu-bulu nibung yang diselipkan di dalam belahannya, diletakkan di tanah yang telah dilapisi dengan daun-daun kering, kemudian dilingkari dengan tali rotan. Sambil berdiri dengan kedua kaki di atas kayu, dan kedua tangan masing-masing memegang ujung tali rotan, tali tersebut digesek-gesek dengan kecepatan yang tinggi.
Suku Yali membuat api dengan menggunakan sebuah tali rotan sebagai korek api. Untuk membuat api, seorang suku Yali akan mengambil sepotong rotan dari pakaian mereka, kira-kira sepanjang 60 sentimeter. Rotan itu lalu dililitkan ke sepotong kayu yang diletakkan di atas tanah, dikelilingi dengan rumput dan dahan kering.
Lalu, lelaki itu akan berdiri, dengan masing-masing kaki menginjak ujung kayu. Dengan tangan, mereka akan menarik tali rotan yang dililitkan tadi dengan cepat naik turun digesekkan ke kayu, sampai keluar asap, api mulai menyala, dan ujung tali putus terbakar. Setelah itu, mereka menutupi kayu tersebut dengan rumput dan meniup sampai terjadi kobaran api yang besar.
Korek Api Tradisional Suku Bauzi Papua (UGC CNN Student/Hari Suroto) |
Korek Api Tradisional Suku Bauzi Papua (UGC CNN Student/Hari Suroto)