Budaya Nongkrong Membuat Remaja Lupa Segalanya?

Deddy Sinaga | CNN Indonesia
Kamis, 01 Feb 2018 14:00 WIB
Nongkrong sudah menjadi salah satu ciri yang identik bagi generasi zaman sekarang. Apa untungnya? Apa pula ruginya? Ilustrasi (Foto: ambroochizafer/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Istilah nongkrong merupakan hal yang tidak asing lagi di masa kini. Nongkrong sudah menjadi salah satu ciri yang identik bagi generasi zaman sekarang.

Manusia sebagai makhluk sosial, merupakan faktor pendorong terjadinya budaya nongkrong. Budaya ini telah muncul sejak zaman dahulu hingga saat ini, di mana budaya ini dijadikan kebiasaan bagi banyak orang. Tidak memandang tua ataupun muda begitu pula di daerah perkotaan atau pedesaan.

Nongkrong merupakan kegiatan berupa interaksi dengan orang lain saat memiliki waktu luang. Di mana interaksi merupakan kebutuhan bagi tiap manusia. Zaman dahulu nongkrong dilakukan di warung-warung kopi untuk beristirahat bagi para pekerja. Namun, di masa kini nongkrong dapat dilakukan di manapun dan kapanpun.

Nongkrong bukan merupakan kegiatan yang dilarang. Namun jika nongkrong dijadikan suatu kegemaran atau sebuah keharusan yang dilakukan akan menimbulkan kerugian. Terutama jika kegiatan nongkrong dilakukan hingga membuat orang menjadi lupa akan waktu.

Dari hasil riset yang telah dilakukan, para remaja khususnya anak SMA dan mahasiswa menjadikan nongkrong sebagai suatu hal yang wajib dilakukan. Mereka akan menghabiskan banyak waktunya untuk nongkrong demi menggapai status sosial agar terbilang gaul dan mendapat kesenangan semata.

Mereka melakukan kegiatan nongkrong ini bersama dengan orang-orang yang berlatarbelakang sama atau cocok dengan mereka. Karena dengan orang-orang yang berlatarbelakang sama, mereka akan lebih nyaman dan menyukai banyak hal yang sama sehingga mereka menghabiskan waktu dengan orang-orang tersebut untuk bergembira dan supaya tidak bosan. 

Serta biasanya mereka memiliki tempat 'loyalty' sebagai basecamp untuk mereka berkumpul. Di mana tempat tersebut bisa berupa sebuah rumah, warung kelontong, warung kopi, cafe, restaurant atau hanya sekedar sebuah kursi di bawah pohon yang rindang. Mereka menjadikan basecamp tersebut sebagai rumah kedua, karena mereka hampir menghabiskan waktu yang mereka miliki saat waktu luang di tempat tersebut.

Banyak hal yang dapat dilakukan saat nongkrong, bisa berupa kegiatan positif ataupun negatif. Bagi tiap remaja yang melakukan kegiatan nongkrong yang diisi dengan kegiatan positif merupakan hal yang baik. Tetapi tetaplah setiap manusia harus dapat mengatur waktu dengan baik. Tidak perlu menghabiskan waktu hanya untuk kegiatan nongkrong.

Sayangnya masih banyak remaja yang melakukan nongkrong sebagai pelampiasan untuk melepas kepenatan. Di mana mereka berkumpul hanya untuk membuang-buang waktu seperti bergossip, bermain game, duduk dan bermain hp, bahkan tidak sedikit bagi mereka yang justru terjerumus dengan minum-minuman keras dan narkotika akibat nongkrong.

Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam bahkan hingga larut hanya untuk melakukan kegiatan hal sia-sia seperti itu. Mereka merasa mendapat kesenangan batin saat berkumpul dengan teman-temannya.

Kegemaran nongkrong dapat menimbulkan banyak kerugian. Mereka tidak sadar telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk hal yang sia-sia. Sebagai calon penerus bangsa tidak seharusnya mereka membuang-buang waktu untuk hal-hal yang sia-sia. Tidak sadarkah masih banyak hal yang lebih penting untuk dikerjakan ketimbang nongkrong tersebu?

Seperti halnya kegiatan-kegiatan di rumah dengan berkumpul bersama keluarga, membantu orangtua di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah atau kampus, dan hal-hal positif lainnya.

Memang terdapat banyak faktor dari remaja yang addict akan nongkrong ini, namun sebagai remaja yang akan tumbuh menjadi dewasa sudah seharusnya dapat membedakan dan mengatur diri sendiri.

Masa muda memang hanya sekali tetapi bukan berarti mengunakan waktu masa muda ini hanya untuk mencari kesenangan. Cobalah untuk keluar dari zona nyaman. Siapa tahu menyenangkan. Hargailah selalu waktu yang dimiliki, karena waktu tidak akan pernah bisa kembali.

Bisa dibayangkan akan jadi seperti apa jika sampai hari nanti pun para remaja terus memelihara budaya nongkrong yang sia-sia. Akan jadi apa negara Indonesia ini? (ded/ded)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER