Yale Young Global Scholars Program adalah program dua mingguan, yang mempertemukan siswa-siswi di Asia untuk merasakan fasilitas universitas Yale, mengeksplorasi keunikan kota dan kebudayaan Beijing, dan membahas topik-topik penting di kawasan, seperti sains dan teknologi terapan, hubungan internasional, kewirausahaan, biologi, sampai masalah politik. Untuk 2018, program ini digelar pada 26 juli-8 Agustus mendatang.
Vidya Sujaya (16 tahun), siswi dari Indonesia, berkesempatan mengikuti program ini pada 2017, melalui bantuan beasiswa dari Qooco. Dia mengatakan mengetahui soal beasiswa itu melalui gurunya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan dua pekan di Beijing, kata Vidya, sangat menarik dan mengesankan. Salah satu momen yang tak bisa dilupakannya adalah perjalanan ke Tembok Besar China. Dia membayangkan area penuh dengan toko-toko suvenir dan makanan. Tapi, mereka justru diturunkan di suatu area terbuka di luar kota.
Tapi ada salah seorang peserta yang menolong siswa asal Tangerang itu. Seorang gadis bernama Zenobia dari China. Dia memegang tangan Vidya dan membantunya naik dan mengikuti perjalanan itu. Hal itu mengesankan, kata Vidya. Sebab, awalnya dia menganggap peserta program semacam itu pastilah anak-anak cerdas secara akademik dan berwawasan luas.
"Benar memang, orang-orang yang saya temui di sana adalah orang-orang yang menarik, tapi kejadian di Tembok Besar membuka mata saya bahwa setinggi apapun pencapaian seseorang, mereka tetaplah manusia, mereka baik, sangat membantu, penuh pengertian, dan saling mendukung satu sama lain," tuturnya. "Tidak mungkin tidak untuk berteman dengan orang-orang seperti itu."
Satu-satunya hal yang mengecewakan Vidya dalam program itu adalah saat mereka cenderung digabungkan ke kelompok-kelompok yang negaranya berdekatan. Padahal, dia berharap sekali bisa bersama dengan teman-teman baru yang butuh usaha keras untuk diajak bicara dengan segala keterbatasan bahasa dan sebagainya.
Meski begitu, Vidya merasa program itu betul-betul membuatnya keluar dari zona nyaman dan mendapatkan pengalaman serta peluang baru. "Saya mendorong diri saya sendiri untuk merasakan pengalaman baru dan ide-ide baru," kata sosok yang berencana melanjutkan studinya dalam bidang ilmu komputer di Amerika Serikat, Jepang, atau Kanada ini. (ded/ded)