Mengenal Aksara Jawa, Pasangan, Sandangan, dan Contohnya

tim | CNN Indonesia
Kamis, 01 Des 2022 14:00 WIB
Aksara Jawa merupakan salah satu peninggalan budaya tulis masyarakat Jawa. Berikut huruf aksara Jawa, pasangan, sandangan, lengkap dengan contohnya. Ilustrasi. Aksara Jawa merupakan salah satu peninggalan budaya tulis masyarakat Jawa. Berikut huruf aksara Jawa, pasangan, sandangan, lengkap dengan contohnya. (Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aksara Jawa atau Carakan adalah aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa. Aksara Jawa juga dikenal dengan sebutan lain, yakni Hanacaraka yang merujuk pada deretan aksara itu sendiri.

Supaya lebih memahaminya, berikut penjelasan mengenai aksara Jawa, huruf, pasangan, sandangan, lengkap beserta contohnya.


Aksara Jawa merupakan salah satu bentuk peninggalan budaya tulis masyarakat Jawa yang masih digunakan hingga saat ini. Bahkan, aksara Jawa masuk sebagai materi dalam muatan lokal Bahasa Daerah di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Aksara Jawa tidak muncul begitu saja. Terdapat mata rantai sejarah yang mengawali perkembangan aksara ini. Berbagai sumber menyebut, aksara Jawa jika ditelusuri berakar dari aksara Brahmi di India.

Kemudian berkembang menjadi aksara Pallawa lalu diteruskan ke aksara Kawi atau aksara Jawa Kuno. Aksara Kawi inilah yang menjadi pendahulu bagi aksara yang berkembang di Nusantara khususnya di tanah Jawa, salah satunya aksara Jawa.

Aksara Jawa diperkirakan digunakan masyarakat Jawa sejak abad ke-15 dalam wujud sastra maupun tulisan sehari-hari.


Huruf dalam Aksara Jawa

Aksara Jawa terdiri atas 20 huruf, mulai dari 'ha' dan berakhir dengan 'nga'. Aksara Jawa ditulis dari kiri ke kanan dan tanpa mengenal spasi.

Selain itu, aksara Jawa bersifat silabik, artinya huruf konsonan dan vokal menyatu sehingga membentuk suku kata. Misalnya ha, na, ca, ra, ka; bukan h, n, c, r, k.

Hal ini membuat sistem aksara Jawa berbeda dengan huruf latin bersistem alfabetik yang diwakili satu huruf, seperti a, b, c, d, e, dan seterusnya.

Berikut huruf dasar dalam aksara Jawa beserta bunyinya.

hanacaraka
da ta sa wa la
padhajayanya
magabathanga

Selain aksara tersebut, aksara Jawa juga dilengkapi dengan angka, yang ditulis dengan lambang seperti berikut:

꧑꧐
012345678910

Karena beberapa angka memiliki bentuk atau lambang yang sama dengan aksara Jawa, misalnya angka 1 sama dengan aksara 'ga', 7 sama dengan aksara 'la', dan 9 sama dengan aksara 'ya', maka untuk menggunakan angka di tengah kalimat membutuhkan tanda yang disebut tanda pangkat ꧇...꧇

Tanda pangkat aksara Jawa ini sebagai penanda angka dan ditulis mengapit pada aksara angka.

Contoh: 'Tanggal 15 Juni', menjadi ꦠꦁꦒꦭ꧀꧇ꦒ꧕꧇ꦗꦸꦤꦶ


Pasangan Aksara Jawa

Kedua puluh aksara Jawa di atas memiliki pasangannya sendiri-sendiri. Pasangan ditulis di tengah kata atau kalimat yang berfungsi untuk mematikan aksara yang diiringnya supaya menjadi konsonan.

Berikut 20 pasangan yang dimiliki masing-masing aksara.

Aksara JawaPasangan aksara Jawa (Foto: Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk)


Terdapat ketentuan dalam meletakkan pasangan aksara Jawa yang perlu kamu perhatikan. Untuk pasangan ca, ra, ka, da, ta, la, dha, ja, ya, ma, ga, ba, tha, nga diletakkan di bawah aksara yang dipasanginya.

Sementara pasangan ha, sa, pa, nya diletakkan sejajar di sebelah kanan aksara yang dipasanginya; sedangkan pasangan na dan wa diletakkan menggantung pada aksara yang dipasanginya.

Contoh: 'Nulisa aksara Jawa'. Huruf 'ka' pada kata aksara harus dimatikan agar menjadi konsonan, sehingga pada huruf 'sa' yang mengikutinya perlu diganti dengan pasangan.

Dengan demikian, penulisannya menjadi ꦤꦸꦭꦶꦱꦲꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ

Apabila huruf 'ka' tidak dimatikan dan 'sa' tidak diberi pasangan, maka akan berbunyi ꦤꦸꦭꦶꦱꦲꦏꦱꦫꦗꦮ atau 'nulisa akasara Jawa'.

Sandangan Aksara Jawa

Sandangan atau sandhangan adalah tanda diakritik yang berfungsi untuk mengubah bunyi pada huruf aksara Jawa. Terdapat empat macam sandangan, yaitu sandangan swara, sandangan sigeg, sandangan anuswara, dan pangkon.

Aksara JawaSandangan aksara Jawa (Foto: Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk)

1. Sandangan swara dipakai untuk mengubah bunyi vokal aksara Jawa yang semula menghasilkan suku kata terbuka [a] memerlukan sandangan agar menjadi bunyi vokal [i], [é], [e], [u], dan [o].

Berikut nama sandangan beserta bunyinya.

  • Wulu, sandangan untuk mengubah bunyi aksara menjadi [i] misal pada kata iki, contoh: ꦲꦶꦏꦶ
  • Taling, sandangan untuk mengubah bunyi aksara menjadi [é] misal pada kata lele, contoh: ꦭꦺꦭꦺ
  • Pepet, sandangan untuk mengubah bunyi aksara menjadi [e] misal pada kata sega (nasi), contoh: ꦱꦼꦒ
  • Suku, sandangan untuk mengubah bunyi aksara menjadi [u] misal pada kata buku, contoh: ꦧꦸꦏꦸ
  • Taling tarung, sandangan untuk mengubah bunyi aksara menjadi [o] misal pada kata loro, contoh: ꦭꦺꦴꦫꦺꦴ


2. Selanjutnya sandangan sigeg yang berfungsi untuk mengubah bunyi aksara agar mendapat bunyi konsonan. Sandangan ini terdiri atas wignyan [h], layar [r], dan cecak [ng].

  • Wignyan, sandangan untuk mengubah bunyi aksara seolah mendapat bunyi konsonan [h] misal pada kata bah, contoh: ꦧꦃ
  • Layar, sandangan untuk mengubah bunyi aksara seolah mendapat bunyi konsonan [r] misal pada kata bar, contoh: ꦧꦂ
  • Cecak, sandangan untuk mengubah bunyi aksara seolah mendapat bunyi konsonan [ng] misal pada kata bang, contoh: ꦧꦁ

3. Berikutnya adalah sandangan anuswara yang digunakan untuk mengubah bunyi aksara agar muncul peluluhan bunyi konsonan [y], [r], dan [w].

  • Péngkal, sandangan untuk mengubah bunyi aksara seolah mendapat peluluhan konsonan [y] misal pada kata kya, contoh: ꦏꦾ
  • Cakra, sandangan untuk mengubah bunyi aksara seolah mendapat peluluhan konsonan [r] misal pada kata kra, contoh: ꦏꦿ
  • Gembung, sandangan untuk mengubah bunyi aksara seolah mendapat peluluhan konsonan [w] misal pada kata kwa, contoh: ꦏ꧀ꦮ

4. Sementara sandangan pangku atau pangkon digunakan khusus untuk mematikan kata atau mengakhiri kalimat. Berbeda dengan pasangan yang ditulis di tengah kata atau kalimat, sandangan pangkon ini hanya digunakan di akhir kalimat.

Selain itu, sandangan pangkon digunakan untuk menghindari penulisan bertumpuk dua tingkat di akhir kalimat.

  • Contoh pangkon pada kata mas: ꦩꦱ꧀

Contoh Menulis Aksara Jawa

Jika sudah memahami penjelasan di atas, simak contoh kalimat dengan menggunakan pasangan, sandangan, dan pangkon untuk kamu perhatikan:

  1. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat: ꦏꦼꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠꦲꦣꦶꦤꦶꦔꦿꦠ꧀
  2. Sinau tembang macapat: ꦱꦶꦤꦲꦸꦠꦼꦩ꧀ꦧꦁꦩꦕꦥꦠ꧀
  3. Wedang bubuk tanpa gula: ꦮꦼꦢꦁꦧꦸꦧꦸꦏ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦒꦸꦭ
  4. Masku sikile lara: ꦩꦱ꧀ꦏꦸꦱꦶꦏꦶꦭꦺꦭꦫ 
  5. Anak kebo arane gudel: ꦲꦤꦏ꧀ꦏꦼꦧꦺꦴꦲꦫꦤꦺꦒꦸꦣꦺꦭ꧀
  6. Mangan sega tempe karo tahu: ꦩꦔꦤ꧀ꦱꦼꦒꦠꦺꦩ꧀ꦥꦺꦏꦫꦺꦴꦠꦲꦸ
  7. Menyang sekolah dianter bapak: ꦩꦼꦚꦁꦱꦼꦏꦺꦴꦭꦃꦢꦶꦲꦤ꧀ꦠꦼꦂꦧꦥꦏ꧀

Demikian huruf dan angka aksara Jawa, pasangan, sandangan, beserta contohnya untuk kamu pelajari.

(fef/fef)


[Gambas:Video CNN]
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER