"Saya memperkirakan naik 2 hingga 3 persen dan yang pasti naik itu harga barang industri makanan dan minuman. Kalau untuk barang-barang yang permintaannya segitu-segitu saja, harganya susah naik karena stoknya juga masih banyak" ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi di Jakarta, Rabu (19/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sofjan, kenaikan harga BBM bersubsidi otomatis menyebabkan harga faktor produksi meningkat, khususnya melalui jalur Upah Minimum Provinsi (UMP). Namun, Sofjan mengatakan bahwa pihaknya masih perlu waktu tiga sampai empat bulan ke depan untuk memperhitungkan dampak kenaikan UMP terhadap biaya produksi.
Pada kesmepatanyang sama, Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Franky Sibarani mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi hanya berkontribusi sekitar 1 persen terhadap meningkatnya harga-harga barang. "Jadi kontribusi biaya distribusi terhadap total harga barang kan hanya 2 hingga 5 persen, sedangkan komponen biaya bahan bakar minyak kan hanya 30 persen dari besaran 2 persen biaya distribusi itu, jadi kalau dihitung-hitung ya kenaikannya hanya berdampak satu persen" jelasnya.
Kendati demikian, Franky mengatakan pihaknya tetap akan merekomendasikan kenaikan harga produk makanan dan minuman pada tahun depan dengan pertimbangan kenaikan UMP, kenaikan BI Rate, serta depresiasi Rupiah. Faktor kurs menjadi pertimbangan utama mengingat mengingat 60 persen hingga 80 persen bahan baku industri dibeli dari luar negeri menggunakan dolar Amerika Serikat.
"Kenaikan harga barang kita di awal tahun depan bukan karena kenaikan harga BBM, tapi karena kurs mata uang yang melemah dan upah minimum regional yang meningkat. Kita prediksi kenaikan harganya bisa mencapai 5 hingga 10 persen akibat dua faktor ini" terang Franky.