“2015 kita tidak bisa berharap banyak pada faktor pendorong dari luar. Ekonomi Amerika Serikat masih dalam tahap pemulihan, sementara mitra dagang regional kita masih mengalami perlambatan. Kita belum bisa berharap ekspor tahun depan, akan berpengaruh banyak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Bambang di Jakarta, Selasa (25/11).
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 persen. Sementara sampai akhir tahun ini target pertumbuhan ekonomi dibidik pada angka 5,5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan nilai ekspor non-migas tersebut disebabkan oleh berkurangnya jumlah ekspor tiga jenis golongan barang dari total 10 golongan barang yang di survey BPS, yaitu karet dan barang dari karet yang turun sebesar 21,51 persen, bahan bakar mineral 12,97 persen, serta mesin/peralatan listrik yang turun 7,23 persen.
"Sepanjang Januari-September 2014, Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$ 12.581,2 juta diikuti Amerika Serikat sebesar US$ 11.869 juta, dan Jepang sebesar US$ 10.714,2 juta," ujar Suryamin, Kepala BPS awal November lalu.
Selain itu, ekonomi beberapa negara tujuan ekspor non-migas Indonesia mengalami pelemahan pada kuartal II 2014 dibanding kuartal I 2014 seperti Korea Selatan, Singapura, Jerman, Rusia, dan Jepang. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya penurunan realisasi ekspor non-migas ke negara tujuan utama sebesar 6,2 persen, padahal pemerintah telah memasang target nilainya bisa meningkat 4 persen sampai 5 persen.