"Tahun depan nilai subsidi akan tetap untuk setiap liter BBM sehingga anggaran subsidi akan lebih managable," jelas Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro pada acara Indonesia Economic Froum di Jakarta, Selasa (25/11).
Dengan demikian, kata Bambang, realisasi anggaran subsidi akan tergantung pemakaian BBM bersubsidi dan tidak bergejolak mengikuti perkembangan harga minyak. "Untuk mengontrol konsumsi, kami akan berupaya untuk mengurangi penyalahgunaan atau penyelundupan BBM bersubsidi," ujar menkeu menegaskan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Skema mematok subsidi, katanya, saat ini sudah diberlakukan untuk komoditas bahan bakar nabati (BBN). "Tentu kami pertimbangkan juga dampaknya pada inflasi di masyarakat," katanya.
Dampak Positif
"Namun, karena pengaruhnya sangat kecil maka diasumsikan bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000 per liter tidak mempengaruhi pertumbuhan," jelas Andrinof dalam dokumen kajian Bappenas soal kebijakan subsidi BBM.
Sementara dampaknya terhadap inflasi, lanjut Andrinof, setiap kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 500 per liter akan meningkatkan inflasi sebesar 0,57 persen. Dengan demikian, ada potensi lonjakan inflasi sebesar 2,27 persen dengan naiknya harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000 per liter.
"Efek kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap peningkatan inflasi akan terjadi dalam rentang waktu sekitar tiga bulan," jelasnya.