Untuk dapat mencegah hal tersebut, dibutuhkan kerjasama yang apik antara Pemerintah dan sejumlah instansi terkait demi mempercepat pembangunan pembangkit listrik.
"Saya optimistis dengan Pak Sudirman (Menteri ESDM) tapi tidak dengan yang lain. Soalnya mereka itu tidak benar-benar serius mengurus krisis energi yang tengah mengancam Indonesia," ujar Kuntoro kepada CNN Indonesia, Rabu (26/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mencatat dari fast track program (FTP) I, hanya 70 persen pembangkit yang berhasil direalisasikan. Sementara proyek lanjutan FTP II tidak berhasil menambah kapasitas listrik yang signifikan dari target 17 ribu megawatt (MW).
PLTU Batang merupakan satu dari beberapa proyek pembangkit yang dibangun demi menutupi kebutuhan listrik Pulau Jawa. Namun, penyelesaian proyek pembangkit berkapasitas 2 ribu MW itu terhambat oleh masalah pembebasan lahan yang baru akan dimulai lagi pada awal tahun depan. Demi menyiasati hal tersebut, PT PLN (Persero) akan mengandalkan upaya penambahan pasokan dari PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) di Muara Karang, Muara Tawar, Grati, dan Gresik.
"Pembebasan PLTU Batang akan ditangani PLN langsung mulai 1 Januari 2015. Mudah-mudah bisa jalan sesuai harapan dibarengi penambahan kapasitas dari pembangkit lain," ujar Direktur Utama PLN Nur Pamudji beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, demi menutupi kebutuhan listrik Pulau Jawa yang terus meningkat PLN mengagendakan pembangunan beberapa pembangkit listrik berkapasitas total 6 ribu MW. Dimana pembangkit tersebut meliputi PLTU Sumsel 8 berkapasitas 2x600 MW, PLTU Sumsel 9 sebesar 2x600 MW, PLTU Sumsel 10 1x600 MW, PLTU Batang 2x1.000 MW, dan PLTU Indramayu 1x1.000 MW. Namun, dari 5 pembangkit tersebut tak satu pun proyek yang berhasil diselesaikan hingga saat ini.
Sementara tambahan pasokan listrik yang ideal untuk menutupi kebutuhan listrik Pulau Jawa diperkirakan mencapai 9.000 MW. Ini mengingat sistem listrik terpasang kawasan Jawa-Bali saat ini baru mencapai 31.400 MW. Sementara kebutuhan listrik 2014 sudah mencapai 33 ribu MM dengan rasio pertumbuhan rata-rata mencapai 8,4 persen.