"Dulu sebelum BBM naik harga tandan buah segar Rp 1.500 per kilogram, lalu jadi Rp 1.780 minggu lalu. Minggu ini turun menjadi Rp 1.681 dan minggu depan bisa turun lagi," kata Ketua Aspekpir Riau Setiyono di sela acara Konferensi Sawit Internasional (IPOC) 2015 di Bandung, Kamis (27/11).
Menurut Setiyono, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi mengakibatkan biaya transportasi industri sawit di Riau naik sekitar 15 persen dari sebelumnya. Tidak hanya itu, biaya operasional untuk membeli pupuk serta memanen sawit juga ikut terdongkrak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lihat dulu saja. Dulu sebelum tahun 2000-an, waktu tahun baru dan lebaran harga TBS pasti naik, sekarang malah kadang turun karena dulu masih sedikit lahan sawit," katanya.
Setiyono mengatakan kelangsungan usaha petani sawit semakin berkurang seiring dengan dominasi perusahaan sawit yang semakin besar. Saat ini, katanya, luas lahan perkebunan sawit di Riau mencapai 2,4 juta hektare, di mana sekitar 1 juta hektare dikuasai oleh perusahaan swasta. "Petani ini kan jadi tameng perusahaan melawan para LSM. Seharusnya lebih sejahtera lagi dong," katanya.