Mengutip data Badan Perencanan Pembangunan Nasional (Bappenas), Danang menjelaskan secara nominal investasi swasta dan BUMN meningkat, dari Rp105 triliun pada 2005 menjadi Rp467 triliun pada 2013. Meskipun meningkat, secara persentase tidak pernah lebih besar dari 5,24 persen dari PDB.
"Peningkatan belanja infrastruktur lebih dari empat kali selama kurun waktu 8 tahun," kata Danang dalam Seminar Nasional Infrastruktur untuk Rakyat di Plaza UOB Thamrin, Jakarta, Kamis (18/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilihan Redaksi |
"Dalam skema PPP itu, seringkali yang menjadi masalah adalah renegosiasi lahan hingga kesepakatan mengenai return investasi," kata Danang.
Untuk mengukur efektifitas belanja modal Indonesia, Danang menggunakan indeks Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang berada pada level 5,12. Indeks tersebut menjelaskan bahwa 1 persen pertumbuhan ekonomi membutuhkan 5,12 persen suntikan modal untuk investasi infrastruktur. Semakin besar nilai ICOR maka investasi belanja modal semakin tidak efektif.
ICOR Indonesia, lanjut Danang, berbeda jauh dengan negara-negara berkembang lain dengan skala penduduk dan struktur demografi yang mirip, seperti Brazil (2,55), Tiongkok (4,36), Rusia (3,41) dan India (4,92).
"Hal ini menunjukan pemerintah belum bisa meningkatkan daya ungkit untuk menggerakan pertumbuhan ekonomi kita," kata Danang.