Nilai Tukar

Rupiah Kembali Tersungkur, Pemerintah Salahkan Politik Yunani

Giras Pasopati, Resty Armenia , CNN Indonesia | Rabu, 07/01/2015 14:13 WIB
Rupiah Kembali Tersungkur, Pemerintah Salahkan Politik Yunani Mata uang rupiah pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. (CNNIndonesia GettyImages)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mematok kurs tengah rupiah di level Rp 12.732 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (7/1), naik 0,58 persen dari hari sebelumnya. Pemerintah kemudian menuding faktor situasi politik di Yunani sebagai penyebab pelemahan rupiah.

“Jadi ada persoalan faktor eksternal atau internasional, terutama kemarin gara-gara Yunani itu. Hal itu membuat investor khawatir karena berimbas ke ekonomi,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil di Jakarta, Rabu (7/1).

Dia menjelaskan, memanasnya situasi politik di Yunani terkait pemilu dinilai dapat mengganggu restrukturisasi ekonomi Uni Eropa. Apalagi, dalam beberapa hari terakhir terdapat kabar stimulus dari bank sentral Eropa.

Sementara itu Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan situasi politik dan ekonomi Eropa memang sangat berpengaruh terhadap ekonomi dunia saat ini. Apalagi, ekonomi AS sedang membaik.

“Ya itu sudah gejala global. Dolar AS sudah menguat, dan semuanya terkena imbas. Terkait berapa lama, ya selama masalah di Eropa tersebut masih terjadi,” ujarnya.

Di sisi lain, analis PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan rupiah perlu mencatatkan level penutupan harian di atas Rp 12.930 untuk bisa dikatakan melanjutkan momentum pelemahan.

“Dari sisi fundamental, penguatan dolar AS cukup membebani kinerja rupiah di awal sesi perdagangan,” kata Zulfirman.

Dolar AS menguat seiring merebaknya kewaspadaan menjelang publikasi hasil rapat bank sentral AS (The Fed) pada Kamis dini hari yang dapat menegaskan ekspektasi prospek kenaikan suku bunga AS pada 2015.

“Tangguhnya kinerja dolar AS juga terbantu oleh pelemahan euro seiring merebaknya ekspektasi bahwa bank sentral Eropa akan segera meluncurkan kebijakan stimulus,” ujarnya.

Menurutnya investor juga khawatir dengan outlook perekonomian Indonesia setelah data di akhir pekan silam menegaskan berlanjutnya perlambatan ekonomi di kuartal terakhir 2014. Indeks manufaktur (versi HSBC) Indonesia turun dari level 48,0 ke 47,6 untuk bulan Desember.

Sementara inflasi tahunan naik dari 6,23 persen menjadi 8,36 persen untuk bulan terakhir 2014. Indonesia kembali mencatatkan defisit neraca perdagangan US$ 420 juta di November seiring ekspor tahunan jatuh 14,57 persen pada bulan tersebut.

“Sentimen pelemahan rupiah masih terjaga. Mata uang Garuda tersebut mungkin akan diperdagangkan di kisaran Rp 12.640 hingga Rp 12.750 untuk hari ini,” kata Zulfirman.

CNN Indonesia mencatat sejak awal tahun, kurs tengah telah melemah 2,07 persen dari Rp 12.474 pada 2 Januari 2015.