Analis PT Mandiri Sekuritas Liliana S. Bambang menjelaskan, keputusan pemerintah untuk menurunkan harga semen Rp 3.000 per sak yang setara dengan sekitar 5 persen harga jual, tidak menguntungkan untuk perusahaan BUMN, dalam hal ini PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.
”Kami khawatir kebijakan itu akan berlanjut sehingga perusahaan semen negara tidak mampu menaikkan harga seperti sebelumnya. Kami menetapkan pandangan baru, kinerja Semen Indonesia tahun ini akan 11 persen di bawah prediksi konsensus,” ujar Liliana seperti dikutip dari riset, Selasa (20/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami menilai sektor tersebut akan ditransaksikan di bawah IHSG ke depannya,” jelasnya
“Pandangan kami akan berubah menjadi lebih positif jika pemerintah menyatakan akan membebaskan manajemen perusahaan semen untuk menetapkan harga jual mereka,” ungkapnya.
Sebelumnya, Semen Indonesia menyatakan siap mengikuti instruksi pemerintah untuk menurunkan harga jual sebesar Rp 3.000 per sak, meski dalam jangka pendek dinilai bakal mengganggu target penjualan.
”Ya intinya kita support program pemerintah. Kita dukung penuh,” kata Corporate Secretary Semen Indonesia, Agung Wiharto, Jumat (16/1).
Agung menganggap pengurangan harga jual produk semen bisa berdampak negatif dalam jangka pendek. Namun, di sisi lain dia optimistis bakal positif secara jangka panjang. Dengan asumsi semua harga ikut turun termasuk semen, kata dia, program pembangunan infrastruktur bisa dipercepat.
“Memang tidak dimungkiri dalam jangka pendek akan berpengaruh ke revenue (pendapatan). Tapi kita percaya itu baik dalam jangka panjang,” ujarnya. (gir/gir)