“Contohnya ada dua proyek pembangunan pabrik semen di Papua dan Kalimantan. Termasuk pula proyek oilchemical di Dumai, Riau. Kebanyakan bottle necking yang terjadi akibat konstruksi yang lama sekali berjalan,” ujar Franky di kantornya, Rabu (28/1).
Franky mengatakan ke-95 proyek ini dimulai beberapa tahun yang lalu, namun sampai sekarang belum bisa terealisasi akibat banyaknya hambatan. Sayangnya Franky tidak menjabarkan lebih lanjut nama-nama perusahaan yang melakukan investasi tersebut. Selain itu, dia menambahkan bahwa percepatan realisasi ini tak bisa diselesaikan secara general mengingat permasalahan berbeda yang dialami tiap-tiap proyeknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti yang telah diketahui sebelumnya, target investasi BKPM pada 2015 sebesar Rp 519,5 triliun dengan target investasi industri primer sebesar Rp 97,6 triliun, industri sekunder atau hilir sebesar Rp 211,9 triliun, dan industri jasa sebesar Rp 147,1 triliun. (ags/gen)