Hermawan Thendean, General Manager, Strategic Information Technology Group, BCA, mengakui belum lama ini beberapa nasabah BCA menjadi korban pencurian uang secara online. Kasus ini terjadi karena perangkat PC yang digunakan oleh para korban secara tidak disadari telah terinfeksi virus atau malware yang meminta angka token dengan alasan sinkronisasi.
"(Singkronisasi token) sebetulnya tidak pernah dilakukan oleh sistem BCA. Jika nasabah mengalami kerugian atas kejadian tersebut, maka BCA akan mengganti kerugian nasabah," ujar Hermawan kepada CNN Indonesia, Jumat (6/3).
Untuk kedepannya, jelas Hermawan, BCA akan menerapkan sistem keamanan yang lebih ketat guna memitigasi terulangnya kasus serupa. Selain itu, BCA secara konsisten akan tetap mengedukasi nasabah untuk menghubungi layanan HaloBCA jika mengalami kejadian yang tidak wajar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk kasus korban KlikBCA, pengguna layanan internet tersebut akan menjumpai sebuah pop-up saat mengunjungi klikbca.com. Menu tersebut meminta pengguna untuk melakukan sinkronisasi token.
Pengguna yang terkecoh dan mengikuti perintah yang tercantum pada pop-up tersebut, secara tak sadar sedang melakuan transaksi perbankan. Tetapi sebenarnya, itu merupakan bagian awal dari aksi penipuan perbankan secara digital.
(ags)