Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mencatat volume produksi keramik Indonesia pada tahun lalu sekitar 480 juta meter persegi (m2), dengan nilai omset mencapai Rp 30 triliun. Pencapaian tersebut meningkat sekitar 10 persen dibandingkan dengan prestasi 2013 yang sedikit lebih baik.
"Tahun ini sepertinya sulit tumbuh. Tadinya kami berharap (produksi) 500 juta m2 atau targetnya Rp 36 triliun, tapi agak sulit jadi kemungkinan sama dengan tahun lalu," ujar Ketua Asaki Elisa Sinaga di kantor Kementerian Perindustrian, Selasa (31/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak bilang (minta) subsidi, tetapi minimal turunkan harga gas. gas," katanya menegaskan.
Puasa Produksi
Achmad Safiun, Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), mengatakan industri pengguna gas saat ini sudah mulai 'puasa' produksi. Gejala penurunan produksi mulai terlihat seiring dengan menurunnya permintaan domestik dan semakin tingginya harga gas industri.
"Seperti industri keramik itu sudah turun 20-30 persen sekarang," katanya.
FIPGB mencatat harga gas industri yang dijual oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN ) dan PT Pertamina (Persero) saat ini sekitar US$ 9,3 per MMbtu. bahan bakar tersebut jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga gas di sejumlah negara Asean, seperti Singapura sekitar US$ 4-5 per MMbtu, Malaysia US$ 4,47 per MMbtu, Filipina US$ 5,43 per MMbtu dan Vietnam sekitar US$ 7,5 per MMbtu.
"Kondisi industri Indonesia rawan karena energi dan bahan baku naik harganya, daya saing produknya melemah ekspor terhambat," kata Achmad Safiun. (ags/gen)