Kimia Farma Bidik Penjualan Ekspor Naik 65 Persen

CNN Indonesia
Rabu, 08 Apr 2015 19:14 WIB
Setidaknya ada 10 negara tujuan ekspor baru Kimia Farma yaitu Myanmar, Kanada, Vietnam, Kamboja, dan negara-negara di Afrika.
Sepanjang 2015, Kimia Farma akan membuka 100 gerai apotek baru. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan farmasi pelat merah, PT Kimia Farma (Persero) Tbk mengincar peningkatan penjualan ekspor hingga 65 persen menjadi sekitar Rp 77,55 milliar setelah perseroan memperoleh negara potensial baru.

“Ekspor selama 2014 berada di sekitar Rp 47 miliar. Kami targetkan pada 2015 bisa naik 65 persen,” ujar Farida Astuti, Direktur Kimia Farma di Jakarta, Rabu (8/4).

Dia membeberkan, manajemen telah memperoleh 10 negara tujuan ekspor baru yang siap membeli obat-obat produksi Kimia Farma. Negara-negara tersebut di antaranya adalah Myanmar, Kanada, Vietnam, Kamboja dan beberapa negara Afrika.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Untuk penjualan, pada tahun ini kami targetkan mampu tumbuh hingga 16 persen menjadi Rp 5,38 triliun. Sementara laba bersih kami targetkan naik 8 persen menjadi Rp 236,5 miliar,” ujarnya.

Perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 590,6 miliar pada 2015. Farida menjelaskan, bahwa dana tersebut akan dialokasikan untuk melakukan pengambangan bisnis perseroan sepanjang tahun ini.

Belanja modal itu diantaranya akan digunakan untuk investasi fasilitas pabrik baru, investasi manufaktur fasilitas produksi, investasi pembangunan fasilitas NaCI garam farmasi, investasi portofolio produk baru, dan investasi produk bioteknologi.

"Selain itu dana juga akan di investasikan untuk pembangunan fasilitas rapid test, investasi pembangunan fasilitas infus, investasi pabrik bahan baku garam farmasetis, dan pembukaan gerai baru," jelas Farida.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, bahwa perseroan bakal membangun 155 gerai baru terdiri dari 100 apotek, 50 klinik, 5 lab klinik. Untuk pembukaan gerai baru seperti klinik dan apotek, perseroan akan mengalokasikan sekitar 20 persen dari keseluruhan belanja modal tersebut.

"Dari total dana sebesar Rp 590,6 miliar, sekitar 20 persen dicanangkan untuk apotek dan klinik. Selebihnya untuk mengembangkan bisnis, disini juga ada untuk pabrik Banjaran tapi hanya sebagian saja tidak sepenuhnya, dan ada proyek-proyek lain," pungkasnya.

Farida menambahkan, sumber pendanaan belanja modal tahun ini akan berasal dari kombinasi dana kas internal perusahaan dan juga pendanaan dari pihak perbankan. "Kas internal perusahaan masih sekitar Rp 300 miliar lebih. Adapun sisa pendanaan belanja modal akan berasal dari perbankan," ungkapnya. Add as a preferred
source on Google