Kendati mengapresiasi kebijakan pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM), Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati dalam menyesuaikan harga komoditas energi lainnya seperti tarif listrik dan elpiji agar tidak menambah beban inflasi di masa mendatang.
"Memang inflasi perlu harus diwaspadai. Kami melihat di administered prices, penyesuaian harga BBM memberi manfaat dalam jangka pendek menengah. Tapi kita yakini ada area yang sedang dikaji terkait dengan elpiji, listrik rumah tangga. Ini nanti kalau ada penyesuaian harus dilakukan dengan terencana dan bijaksana sehingga inflasi terjaga di kisaran 4 persen," ujar Agus di Ritz Carlton, Jakarta, Kamis ( 7/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara khusus waspadai volatile food, pangan ini selalu menjadi tantangan Indonesia," ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadinya inflasi pada April 2015 sebesar 0,36 persen menyusul naiknya ongkos transportasi. Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, inflasi April 2015 tercatat sebesar 6,79 persen, sedangkan secara kumulatif Januari-April terjadi deflasi 0,08 persen.
"Kelompok pengeluaran transportasi mengalami inflasi tertinggi 1,8 persen, dengan andil 0,93 persen akibat dampak kenaikan BBM yang terjadi pada akhir Maret," ujar Kepala BPS Suryamin di kantornya, Senin (4/5).
Menurut Suryamin, dari 72 kota yang survei, sebanyak 10 kota deflasi. Inflasi tertinggi di Kota Tual sebesar 1,31 persen karena beberapa komoditas dan tarif angkutan umum naik. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Cilacap, yakni minus 0,02 persen.
Untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi 0,5 persen dengan andil 0,08 persen. Kenaikan harga gula pasir jadi pendongkrak inflasi kelompok pengeluaran ini. Kemudian kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar inflasi 0,22 persen dengan andil 0,06 persen. Kenaikan harga LPG dan tarif listrik jadi pemicunya.