"Saat itu tujuannya untuk memperbaiki tata kelola yang benar. Rencana untuk membubarkan Petral sudah didorong sejak era Pak Dahlan," ujar Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication Pertamina di Jakarta, Selasa (19/5).
Terkait pembubaran Petral saat ini, Wianda bilang Pertamina masih melakukan persiapan terkait audit investigasi yang akan mengevaluasi aset serta kewajiban yang dimiliki Petral. Pasalnya dengan adanya likuidasi otomatis aset serta kewajiban perusahaan akan dilimpahkan ke induk usahanya yaitu Pertamina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nantinya aset dan kewajiban Petral akan dilimpahkan ke Pertamina. Kami harapkan (proses likuidasi) akan rampung dalam waktu dekat dan tidak melewati timeline April 2016," tutur Wianda.
Dari catatan Pertamina, saat ini Petral memiliki aset sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 26 triliun. Dimana valuasi tersebut juga terdiri dari aset serta piutang dari Pertamina Energy Service (PES) dan Zambesi Investment Limited (ZIL) yang merupakan anak usaha Petral di bidang jual-beli migas di luar negeri.
Dengan mengacu pada temuan Tim Reformasi Tata Kelola Migas, PES merupakan perpanjangan tangan Pertamina di Singapura yang berfungsi melakukan pengadaan minyak impor. Akan tetapi sebagai trading arm dan market intellegence Pertamina, PES nyatanya tidak menjalankan fungsinya dengan baik.
Hal tersebut terjadi karena PES tidak memiliki fasilitas pencampuran minyak (blending) melainkan menyewanya dari fasilitas Trafigura Limited di Tanjung Langsat, Malaysia.
"Soal aset sedang dilakukan review. Memang aset secara bentuk fisik tidak terlalu banyak tapi saat ini sedang didalami," kata Wianda. (gen)