Lapangan Bukit Tua Mulai Produksi Minyak 3.700 Bph

Diemas Kresna Duta, CNN Indonesia | Selasa, 19/05/2015 20:05 WIB
Lapangan Bukit Tua Mulai Produksi Minyak 3.700 Bph Menteri ESDM Sudirman Said (kiri) didampingi Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi (kanan) memberikan pengarahan usai serah terima jabatan Kepala SKK Migas di Jakarta, Jumat 21 November 2014. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melansir Lapangan Bukit Tua, yang menjadi Wilayah Kerja kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) Petronas Carigali mulai memproduksi migas pada Minggu, 17 Mei 2015.

Di tahap awal, lapangan yang terletak di Wilayah Kerja Ketapang, Jawa Timur itu telah mampu menghasilkan 3.700 barel minyak per hari (Bph) dan 2 juta kaki kubik gas bumi per hari (mmscfd).

“Secara bertahap akan meningkat hingga produksi puncak sebesar 20 ribu Bph dan gas sebanyak 50 mmscfd pada tahun 2016,” kata Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi melalui keterangan resminya, Selasa (19/5).

Amien menambahkan, perjanjian jual beli gas Lapangan Bukit Tua sendiri telah dilakukan antara kontraktor bersama Petrogas Jatim Utama, Badan Usaha yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dimana gas tersebut akan digunakan untuk pembangkit listrik guna memenuhi kebutuhan energi domestik yang terus meningkat setiap tahunnya.


“Upaya ini sesuai komitmen industri hulu migas untuk meningkatkan pasokan gas untuk domestik,” katanya.

General Manager Petronas Indonesia, Hazli Sham Kassim pun mengatakan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian produksi pertama ini. Hazli mengungkapkan, Lapangan Bukit Tua merupakan proyek hulu migas terbesar Petronas di Indonesia. "Petronas telah menginvestasikan sekitar US$ 800 juta untuk proyek di Bukit Tua,” katanya.

Sebagai informasi, Lapangan Bukit Tua terletak di laut utara Jawa Timur atau 35 kilometer sebelah utara Pulau Madura, dan 110 kilometer timur laut Kota Gresik, Jawa Timur. Pengembangan Wilayah Kerja Ketapang dilakukan secara terpadu yang melibatkan fasilitas pendukung lainnya seperti fasilitas produksi, penyimpanan, dan pengangkutan terapung (floating production storage and offloading/FPSO) yang diberi nama Ratu Nusantara.

Anjungan Bukit Tua diketahui terhubung dengan FPSO Ratu Nusantara, yang memiliki kapasitas pengolahan minyak hingga 20 ribu Bph dan gas sekitar 70 mmscfd, serta 20 ribu barel air per hari. Selain itu, kapal ini dirancang mampu menyimpan hingga 630 ribu barel minyak yang telah diproses.

Fasilitas ini terhubung melalui pipa bawah laut sepanjang 110 kilometer, dengan fasilitas penerimaan di darat atau Onshore Receiving Facility (ORF) di Gresik. Gas yang diproduksi akan disalurkan ke ORF di Gresik melalui pipa, sedangkan minyak akan dikirim dengan kapal tanker untuk di ekspor.

Saat ini, Wilayah Kerja Ketapang dioperatori oleh Petronas Carigali Ketapang II Ltd berdasarkan kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) di bawah pengawasan dan pengendalian SKK Migas. Kepemilikan saham Petronas di wilayah kerja tersebut sebesar 80 persen. Sisanya, dimiliki PT Saka Ketapang Perdana, yang merupakan anak perusahaan dari Perusahaan Gas Negara (PGN). (gir)