Bank Indonesia Prediksi Dolar Tembus Rp 13.400 Tahun Depan

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Senin, 08/06/2015 18:34 WIB
Bank Indonesia Prediksi Dolar Tembus Rp 13.400 Tahun Depan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (tengah). (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memprediksi nilai tukar rupiah pada 2016 berada di kisaran Rp 13 ribu hingga Rp 13.400 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini lebih tinggi dibandingkan prediksi Pemerintah yang memasang angka Rp 12.800-Rp 13 ribu.

Ramalan tersebut disampaikan Agus dalam rapat kerja pembahasan asumsi ekonomi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016 bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Senayan, Jakarta, Senin (8/6).

BI sendiri mencatat sejak Januari 2015 rupiah telah mengalami pelemahan hingga 6,71 persen. Agus mengatakan ada dua faktor utama yang akan melemahkan mata uang Garuda tahun depan.


"Pertama dari faktor gobal, harga komoditas yang diperkirakan masih rendah akibat masih melemahnya perekonomian negara-negara mitra dagang dan potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed di semester II," kata Agus.

Faktor kedua dari dalam negeri, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang ditargetkan di kisaran 2,5-3 persen dan juga kebutuhan pembiayaan fiskal yang masih tinggi akan menjadi pemicu terus melemahnya rupiah sampai tahun depan.

Waspadai Juni

Potensi pelemahan rupiah di tahun ini menurut Agus juga masih bisa terjadi pada Juni 2015. Ia mengatakan ada potensi rupiah akan kembali melemah seiring dengan prediksi pasar keuangan global yang menanti kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

"Kita perlu waspadai karena Juni ini secara musiman ada permintaan dolar yang tinggi dan FOMC meeting," kata Agus.

Agus mengatakan pelemahan rupiah diyakini juga disebabkan oleh sentimen global lainnya, yakni akibat perkembangan negosiasi di Yunani membuat pasar khususnya sebagian negara di dunia mengalami tekanan. Sementara itu sentimen dalam negeri seperti kondisi inflasi yang relatif tinggi juga masih menjadi penyebab lesunya rupiah.

"Secara umum, perekonomian Indonesia masih relevan dengan kondisi kita. Tapi di bulan Juni ini, secara musiman memang cukup banyak kewajiban yang harus dibayar," katanya.

Mantan Menteri Keuangan itu mengatakan, Indonesia bukan negara satu-satunya yang mata uangnya mengalami pelemahan. Ia menyebut dibandingkan mata uang negara-negara Asean, rupiah masih lebih kuat.Ia meyakinkan BI akan menjaga stabilitas rupiah agar fluktuasi tidak terlalu tinggi.

"Sebetulnya kalau dlihat kondisi kita tidak terlalu lemah kalau dibandingkan negara-negara yang merupakan acuan kita. Lalu dengan Brasil, Turki, Afrika Selatan, kita tidak terlalu tertekan," katanya. (gen)