IHSG dan Rupiah Anjlok, DPR Pertanyakan Peran Menko Sofyan

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Rabu, 10/06/2015 16:37 WIB
IHSG dan Rupiah Anjlok, DPR Pertanyakan Peran Menko Sofyan Menko Perekonomian Sofyan Djalil. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah beberapa waktu ini mendapat perhatian dari Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Banggar menilai, angka asumsi ekonomi makro yang diajukan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 sudah tidak sesuai dengan realita.

Dalam rapat Banggar bersama para Menteri Koordinator, sejumlah pertanyaan terkait kondisi perekonomian pun meluncur dari anggota dewan yang ditujukan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil.

Anggota Banggar dari Fraksi PAN Sukiman menyebutkan posisi nilai tukar‎ rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah jauh dari asumsi pada APBNP 2015. Di mana sekarang dolar mencapai Rp 13.300, sedangkan asumsinya hanya Rp 12.500.


"Ini sebelum kita masuk kepada anggaran 2016, saya ingin minta penjelasan dulu soal rupiah.‎ Bagaimana koordinasi di pemerintah menghadapi ini semua," ungkapnya dalam rapat kerja di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/6).

Sukiman juga mempertanyakan ‎realisasi inflasi sampai Mei yang menyentuh 0,5 persen. Pertumbuhan ekonomi tak luput dari perhatiannya setelah banyak ekonom yang memperkirakan realisasinya sampai akhir tahun akan berada di bawah target pemerintah sebesar 5,7 persen.

"Kalau pertumbuhan ekonomi sudah ada perlambatan, dan itu akan sulit untuk mencapai target. Jadi tolong dijelaskan," kata Sukiman.

Sementara itu anggota Bangar dari Fraksi PKS Eky Muharam mempertanyakan peran pemerintah pusat dan BI terhadap koordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Ia mengatakan peran pemerintah pusat dalam mengendalikan lonjakan harga dan mengontrol ketersediaan supply tidak begitu terasa di daerah.

"Tapi saya tidak melihat kehadiran pemerintah secara langsung. Bagaimana desain Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk bisa sampai kepada daerah?," kata Eky.

Menanggapi cecaran anggota Banggar, Sofyan menjelaskan kondisi indeks pasar modal dan kurs yang jeblok merupakan dampak lemahnya perekonomian global dan permasalahan utang Yunani dengan IMF yang tak kunjung kelar.

"Perkembangan ekonomi dunia cepat. Maka apa yang kami rencanakan sebulan lalu berubah sangat cepat. Rupiah memang melemah tapi hampir semua mata uang juga," kata Sofyan.

Lalu terkait dengan mengatur inflasi, Sofyan mengatakan pemerintah pusat dan BI akan fokus menjaga inflasi inti dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan TPID untuk berperan aktif dalam mengatasi inflasi.

"Presiden ingin TPID semua daerah aktif. BI juga diharapkan berperan. Kemarin kami juga minta semua Bupati dan Gubernur aktif dalam mengatasi inflasi," katanya. (gen)