Colliers Sebut WNA Tak Tertarik Beli Properti di Indonesia

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2015 11:20 WIB
Colliers Sebut WNA Tak Tertarik Beli Properti di Indonesia Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto di Jakarta, Selasa (7/7). (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konsultan properti Colliers International menyatakan rencana pemerintah mengizinkan warga negara asing (WNA) memiliki apartemen mewah di atas Rp 5 miliar tidak akan berefek besar pada penjualan properti di Indonesia.

Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan berdasarkan data keimigrasian, jumlah orang asing yang tinggal di Indonesia tidak lebih dari 100 ribu orang. Di mana sebagian besar ekspatriat hanya tinggal dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun.

Sementara itu,tidak semua warga asing yang tinggal di Indonesia mampu membeli atau memiliki uang untuk membeli apartemen yang harganya di atas Rp 5 miliar.


“Kalau aturan itu dikenakan kepada orang asing yang berdomisili di Indonesia, efeknya tidak akan terlalu besar,” kata Ferry di Jakarta, Selasa malam (7/6).

Apabila nantinya aturan tersebut mengizinkan orang asing yang tidak tinggal di Indonesia memiliki apartemen mewah, Ia menilai dampaknya juga tidak akan signifikan mengingat pasarnya yang terbatas.

Dari sisi pasokan, unit apartemen yang nilainya Rp 5 miliar ke atas diperkirakan kurang dari 10 persen dari ketersedian unit yang ada. Selain itu, apartemen yang harganya di atas Rp 5 miliar hanya akan menarik bagi ekspatriat jika lokasinya ada di daerah tertentu.

“Aturan ini hanya akan memiliki dampak besar apabila lokasi propertinya ada di CBD (Central Business District), Selatan Jakarta, atau di Bali,” katanya.

Lebih lanjut, Ferry mengungkapkan selain harga apartemen, yang bisa menjadi acuan pemerintah untuk membatasi kepemilikan asing adalah pengenaan pajak yang tinggi. Pajak tersebut nantinya bisa digunakan untuk mengurangi backlog perumahan yang diperkirakan mencapai 15 juta unit.

"Kalau mau aman, menurut saya, aturan kepemilikan properti oleh asing ini harus diikuti aturan khusus di mana pajak yang terkumpul itu memang benar-benar dikompensasikan sebagai dana untuk mendukung perumahan oleh rakyat," ujar Ferry.

Sebelumnya Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menegaskan WNA hanya boleh memiliki apartemen mewah senilai Rp 5 miliar ke atas saja. Hal itu disampaikannya terkait rencana revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia,

"Kalau aturannya sudah keluar, asing hanya boleh membeli apartemen mewah. Mewah itu kategorinya minimal Rp 5 miliar," kata Bambang, Rabu (24/6).

Penjelasan Bambang tersebut, merujuk pada pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memberi sinyal akan menerima usulan Realestat Indonesia (REI) agar WNA diizinkan memiliki properti di Indonesia.

Meski rencana tersebut dinilai bakal mendongkrak industri properti Indonesia, analis PT Mandiri Sekuritas Liliana S. Bambang menilai sentimen terhadap rencana kebijakan itu akan positif jika orang asing diperbolehkan membeli tempat tinggal dengan status kepemilikan yang sama dengan warga negara Indonesia (WNI).

“Jika status kepemilikan berbeda, ada risiko bahwa hal itu tidak akan menjadi bankable," ujar Liliana dikutip dari riset.

Selain itu, Liliana menilai jika pemerintah membedakan status kepemilikan properti tersebut, maka hal itu akan menimbulkan risiko aset tersebut nantinya tidak dapat dijual kepada WNI. (gen)
rei