"Pemerintah harus bisa memanfaatkan momentum ini (pelemahan harga) meskipun mengalami kesulitan pendanaan akibat terbatasnya ruang fiskal. Kalau tidak, kita akan selalu lupa dan mengesampingkan hal yang sebenarnya sangat penting," ujar pengamat energi dari ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (27/7).
Komaidi berpendapat, desakan untuk merealisasikan cadangan strategis minyak tak lepas dari tingginya angka kebutuhan minyak impor dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Dalam hitungannya tak kurang dari 900 ribu barel per hari (bph) minyak harus diimpor Indonesia untuk menutup angka kebutuhan BBM yang mencapai 1,6 juta bph.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harusnya uang penghematan yang konon mencapai Rp 150 triliun itu, jangan hanya dialokasikan pada sektor infrastruktur maupun pendidikan saja. Melainkan kita juga harus sadar kalau buffer stock kita hanya bergantung pada cadangan operasional milik Pertamina. Jadi rencana tadi (buffer stock) jangan hanya terus jadi wacana," tegas Komaidi.
"Tapi tidak tepat kalau dana untuk pengadaan cadangan penyangga diambil dari keuntungan penjualan BBM agar tak membebankan masyarakat. Idealnya dana diambil dari alokasi penghapusan subsidi BBM," katanya.
Berlangsung Lama
Di tengah fenomena turunnya jumlah permintaan minyak menyusul perlambatan ekonomi di beberapa negara konsumen seperti China dan India, Komaidi memprediksi harga emas hitam tersebut akan tetap rendah di bawah level US$ 100 per barel hingga tiga tahun ke depan. Hal tersebut lantaran negara-negara anggota pengekspor minyak, yakni OPEC menyatakan tak bakal menurunkan angka produksi meski harga minyak kian rendah.
"Ini karena penerimaan negara juga masih bergantung banyak dari produksi minyak domestik. Saya kira tinggal kemauan dan ketepatan pemerintah saja untuk menentukan kapan merealisasikan cadangan strategis, hingga menggenjot kegiatan eksplorasi dan produksi," cetusnya.
"Memang pelemahan harga minyak menjadi simalakama bagi negara seperti Indonesia," kata Komaidi. (gen)