Pasalnya rerata harga keekonomian bensin beroktan 88 itu pada Maret mencapai level Rp 7.900 per liter, April di angka Rp 7.950 per liter, Mei berkisar Rp 8.950 per liter dan Juni menyentuh Rp 9.100 per liter.
Sementara dalam praktiknya di lapangan, harga BBM penugasan dan subsidi di wilayah Jawa, Madura dan Bali (Jamali) dilego pada level Rp 7.300 per liter untuk produk Premium dan Rp 6.900 per liter untuk Solar bersubsidi. Sedangkan untuk di luar wilayah Jamali, Premium dijual ke masyarakat pada harga Rp 7.400 per liter dan Solar subsidi di angka Rp 6.900 per liter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rini menambahkan, instansinya telah mengantongi sedikitnya tiga opsi periode penetapan harga BBM yaitu dilakukan setiap satu bulan, tiga bulan, hingga enam bulan sekali. Meski begitu, ia mengaku lebih klop untuk memilih periode tiga atau enam bulan.
Sebagai informasi, dalam penetapan harga jual BBM di Indonesia hari ini umumnya dihitung dengan mengacu rerata harga minyak yang di jual di Singapura atau mean of Platts Singapore (MoPS) yang dibeli Pertamina pada satu atau dua bulan lalu. Metode ini dipakai lantaran dalam mekanisme pengiriman, pengolahan hingga penyimpanan minyak membutuhkan waktu berkisar 30 sampai 60 hari.
Berangkat dari hal tersebut, Rini pun memprediksi rerata harga keekonomian Juli 2015 berada di level Rp 9.350 per liter.
"Jadi rencana penetepan harga secara peridoik akan dilakukan agar Pertamina tidak terus merugi karena pemerintah sudah tidak lagi memberikan subsidi untuk Premium. Bahkan hitungan kami, dari penjualan BBM beberapa waktu lalu Pertamina rugi Rp 12 triliun," kata Rini. (gen)