"Untuk transmisi 150 kilovolt (KV) saja, setiap satu kilometer transmisi butuh tiga unit tower, di mana berat satu tower bisa mencapai 10 ton atau 30 ton per km. Nah sampai di sini saja, jelas-jelas proyek ini dapat menggerakkan dan menghidupi Krakatau Steel dan produsen baja nasional lainnya," jelas Saleh Husin melalui keterangan pers, Kamis (30/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, produsen komponen nasional juga diyakini berperan dalam proyek ini seperti pabrikan kawat penghantar (konduktor) dan insulator keramik, dimana kebutuhan masing-masing komponen tersebut ialah 9,3 ton per km dan 346 unit per km.
Melengkapi ucapan Saleh, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan sejauh ini baru PT Krakatau Steel yang berminat untuk menyediakan baja bagi proyek ini. Namun, belum diketahui seberapa besar proporsi baja yang bisa disediakan oleh perusahaan yang berbasis di Cilegon, Banten itu.
"Bahkan obrolan terkait seberapa besar proporsi Krakatau Steel belum dilakukan karena kami masih menunggu rencana pembangunan transmisi yang kini masih disusun oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tapi memang baru perusahaan itu yang baru menyatakan kesanggupannya," tutur Putu ketika dihubungi oleh CNN Indonesia, Kamis malam (30/7).
Sebagai informasi, kapasitas produksi Krakatau Steel sendiri adalah sebesar 4,65 juta ton per tahun pada tahun ini dan menargetkan kapasitas sebesar 7,15 juta ton per tahun pada 2017. Tambahan produksi ini akan dihasilkan dari anak usaha, PT Krakatau Osaka Steel yang dijadwalkan mulai beroperasi tahun 2016 yang memroduksi baja profil (small section steel), baja tulangan (reinforcing bar steel) dan flat bar berkapasitas 500 ribu ton per tahun.
Selain itu, tambahan kapasitas ini rencananya akan dihasilkan dari anak usaha lainnya, PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) yang memiliki kapasitas produksi 480 ribu ton per tahun.
Sejauh ini, rencana pembangunan transmisi ini belum dilakukan oleh PLN karena masih menunggu suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 5 triliun pada tahun ini dan Rp 8 triliun pada tahun depan. Selain itu, perseroan juga masih menunggu penyisihan laba ditahan yang diperkirakan mencapai angka Rp 15 triliun pada periode 2015. (ags)