G20 Tak Sebut Kenaikan Suku Bunga AS Ancaman

Reuters, CNN Indonesia | Sabtu, 05/09/2015 08:09 WIB
G20 Tak Sebut Kenaikan Suku Bunga AS Ancaman Rancangan Komunike G20 tidak menyebut rencana kenaikan suku bunga AS ganggu pertumbuhan dunia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Ankara, CNN Indonesia -- Rancangan komunike akhir para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara anggota G20 tidak memasukkan pernyataan bahwa rencana kenaikan suku bunga AS menjadi risiko terhadap pertumbuhan.

Para pejabat dari emerging market sebelumnya khawatir ketika Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan, investor akan menarik investasi mereka di negara lain dan membeli dolar yang pada akhirnya melemahkan mata uang dan memicu kekacauan.

Namun, komunike itu menyepakati langkah-langkah untuk mengkomunikasikan kebijakan moneter masing-masing anggota. 


“Kami mencatat bahwa sejakan dengan proyeksi ekonomi yang membaik, kebijakan moneter yang ketat akan lebih diterapkan oleh negara-negara ekonomi yang lebih maju,” tulis rancangan komunike menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 yang bertemu di Turki.

“Kami akan dengan berhati-hati mengkalibrasi dan mengkomunikasikan langkah-langkah kami untuk meminimalkan dampak negatif, mencegah ketidakpastian dan mempromosikan transparansi,” bunyi komunike awal yang bisa berubah sebelum disepakati pada Sabtu (5/9).

Versi sebelumnya menyebut bahwa kebijakan pengetatan di negara maju “mungkin menjadi salah satu sumber utama ketidakpastian di pasar finansial”.

“Pada salah satu formulasi (komunike) yang paling keras disebutkan bahwa itu adalah ancaman terbesar bagi perekonomian dunia. Tetapi segera ditolak dan tidak lagi dibicarakan,” ujar seorang sumber dari delegasi Rusia seperti dikutip Reuters.

Rancangan komunike ini menyambut kebijakan pengetatan yang diambil sejumlah negara, tetapi menyebut bahwa pertumbuhan global melenceng dari proyeksi, meski disebutkan bahwa para pejabat finansial G20 yakin perbaikan ekonomi dunia semakin cepat.

Komunike ini secara tidak langsung juga menyinggung langkah China yang mendevaluasi mata uang yuan pada Agustus lalu, yang menjadi pertanda bahwa hal itu tidak dipandang sebagai devaluasi kompetitif untuk mendongkrak ekspor China.

Anggota G20 menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kebijakan nilai tukar mata uang yang fleksibel dan akan “menahan diri melakukan devaluasi kompetitif dan menolak seluruh bentuk proteksionisme,” tulis komunike itu.

Seorang pejabat AS mengatakan, untuk menekankan pesan itu menteri Keuangan AS Jack Lew mengatakan kepada Menteri Keuangan China Lou Jiwei bahwa China harus membiarkan mata uang yuan bergerak melemah dan menguat, dan menghindari langkah untuk menurunkan nilainya agar bisa memiliki daya kompetitif dalam perdagangan global.

Komisaris Ekonomi Eropa Pierre Moscovici mengatakan bahwa dalam pertemuan G20 ini China mengatakan tetap berkomitmen untuk terus melakukan reformsi struktural dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dana Moneter Internasional sebelumnya memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi di China dan volativitas pasar yang meningkat menambah risiko pada ekonomi global, dengan menyebut sejumlah ancaman seperti depresiasi mata uang emerging market dan penurunan harga komoditas.

Tetapi G20 sejak lama dianggap tidak akan menghasilkan langkah-langkah konkrit baru untuk mengatasi dampak ketidakstabilan di perekonomian kedua terbesar di dunia itu, atau meminta secara terbuka agar Beijing mengatasi masalah-masalah struktural seperti kredit macet. (yns)