Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana mengatakan, saat ini pihaknya telah merampungkan seluruh permasalahan yang membuat beberapa proyek panas bumi di Indonesia sempat terhenti pengerjaannya. Di mana jumlah proyek yang sempat mangkrak ini mencapai 12 PLTP
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PLTP Sarulla 3x110 MW merupakan proyek yang digarap konsorsium Sarulla Operation Limited (SOL) yang terdiri dari PT Medco Power Indonesia, Itochu Corporation, Kyushu Electric Power Corporation, dan Ormat International Inc. Pengerjaan proyek PLTP Sarulla sempat terhambat bertahun-tahun lantaran perusahaan konsorsium tak bisa menjaminkan aset untuk mendapatkan jaminan.
Berdasarkan ESC, harga listrik pembangkit ini yakni US$ 6,5 sen per kilowatt hour (kWh).
"Dengan masa konstruksi selama dua tahun, unit pertama pembangkit ini sebesar 110 MW ditargetkan bisa beroperasi pada 2016. Kemudian diikuti oleh unit kedua dan ketiga masing-masing sebesar 110 MW pada 2017 dan 2018," katanya.
Rida meyakini, pengoperasian PLTP Sarulla akan mengakhiri krisis listrik di Sumatera Utara serta menghemat biaya operasional PT PLN (Persero) lantaran dapat mengurangi bahan bakar minyak US$1 juta per hari.
Tak cuma itu, upaya pengoperasian 3 PLTP tadi juga dilakukan demi melanjutkan program percepatan pembangunan pembangkit berkapasitas 10 ribu MW tahap kedua atau fast track program (FTP 2) yang molor.
Indonesia memiliki potensi panas bumi yang cukup besar, yakni mencapai 29 ribu MW. Namun, sampai detik ini pemanfaatan energi panas bumi baru mencapai 1.438,5 MW. (dim/ded)