Beberapa rencana kerja yang dirombak antara lain peta jalan (roadmap) kebijakan terkait eksekusi program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG).
“Otomatis roadmap-nya harus disesuaikan. Tadinya roadmap kita kan agresif, sekarang akan menurun sedikit,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja di Jakarta, Selasa (20/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, adanya perubahan dua roadmap strategis tersebut tak lepas dari berkurangnya anggaran Direktorat Jenderal (Ditjen) Migas sebagai konsekuensi atas berkurangnya anggaran Kementerian ESDM.
Jika dibandingkan anggaran yang diusulkan sebelumnya pada angka Rp 8,8 triliun, itu artinya telah terjadi pemangkasan sekitar Rp 1,08 triliun.
Meski begitu, Wiratmaja mengatakan pemerintah akan tetap konsisten mengeksekusi sejumlah proyek infrastruktur dalam program konversi. Dua diantaranya meliputi pembangunan jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga dari semula akan dibangun di tujuh lokasi menjadi lima lokasi, hingga pada pembangunan tangki penyimpanan gas minyak bumi cair atau liquefied petroleum gas (LPG) dan BBM di Indonesia Timur.
“Nanti konversi BBM ke LPG kan bergeser ke Indonesia Timur seperti Papua dan NTT. Jadi kita harus bangun dulu deponya, baru pada 2017 disebar paket perdananya,” tandas Wiratmaja. (gen)