Arief Budiman, Direktur Keuangan Pertamina mengatakan sampai akhir Oktober kemarin kerugian perseroan dari penjualan premium sudah berada di posisi yang hampir seimbang.
"Meski pun kami tidak bisa menentukan pricing sesuai formula MOPS (Mean of Platts Singapore), khusus untuk Premium kami istilahnya hampir impas. Bahkan kami hampir memperoleh keuntungan karena inovasi," kata Arif di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (2/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari catatan perusahaan migas pelat merah itu, upaya efisiensi di sisi biaya operasi hingga akhir September kemarin sudah mencapai US$ 1,15 miliar, atau sejalan dengan yang ditargetkan pada angka 35 persen dari biaya operasi. Sementara upaya efisiensi pada pelaksanaan Breakthrough Project tahun ini tercatat sudah mencapai US$ 430,77 juta, atau 119 persen dari yang ditargetkan pada periode berjalan.
"Pada prinsipnya secara korporasi apa yang kami terapkan di pasar dapat tertutup dengan upaya saving internal," tutur Arief.
Meski begitu, sampai dengan kuartal III ini Pertamina baru membukukan laba bersih senilai US$ 914 juta. Jika dibandingkan dengan target perolehan laba bersih perseroan di 2015 pada angka US$ 1,7 miliar, itu artinya capaian tersebut baru mencapai 53,7 persen.
Ini tak lepas dari adanya katalis negatif dari anjloknya harga minyak dan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang turut menghambat laju kinerja keuangan Pertamina. (gen)