Mengenal Tiga Anak Baru Dalam Geng Orang Kaya Indonesia

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Kamis, 03/12/2015 09:59 WIB
Mengenal Tiga Anak Baru Dalam Geng Orang Kaya Indonesia Nama Iwan S. Lukminto, Osbert Lyman, dan Soetjipto Nagaria menghiasi daftar 50 orang terkaya di Indonesia untuk tahun 2015. (CNN Indonesia/Agust Supriadi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Daftar 50 orang terkaya di Indonesia yang dirilis Forbes selalu mengalami perubahan setiap tahunnya. Ada dari yang naik atau turun peringkat, hingga yang baru masuk atau malah terdepak dari daftar geng para taipan tersebut.

Kali ini, tiga nama masuk menggantikan taipan yang terdepak dalam jumlah yang sama. Tiga nama tersebut terdiri dari dua orang baru, yaitu Iwan S. Lukminto dan Osbert Lyman, dan seorang taipan yang kembali masuk daftar setelah sempat terdepak Soetjipto Nagaria. CNN Indonesia merangkum rekam jejak bisnis mereka dari berbagai sumber.


Osbert Lyman (Peringkat 43)


Pria berusia 65 tahun ini dikenal melalui perusahaan keluarga Lyman Group yang didirikan oleh ayahnya, Susanta Lyman pada 1959. Lyman Group sebelumnya dikenal dengan nama Satya Djaya Raya Group, sebagai grup usaha di bidang properti. Forbes menyebut kekayaan Osbert mencapai US$ 600 juta.

Nama Lyman Group kembali bersinar saat membangun Casa Domaine, proyek mentereng di kawasan pengembangan Kota BNI, Jakarta Pusat. Proyek tersebut terdiri dari menara apartemen kembar mewah dengan 323 unit yang nilainya ditaksir lebih dari Rp 2 triliun. Menggandeng Salim Group dan Kerry Group, ketiga konglomerasi tersebut berbagi kepemilikan dengan komposisi yang sama 33,33 persen.

Selain proyek itu, Lyman Group juga memiliki portofolio yang tak kalah mentereng, yakni Kota Baru Parahyangan, di Bandung, Jawa Barat. Kota Baru Parahyangan merupakan proyek perumahan skala besar dengan area seluas 1.250 hektare. Dalam proyek tersebut, perusahaan membidik segmen menengah atas dengan harga rumah di kisaran Rp 600 juta-Rp 2 miliar per unit.

Dalam perkembangan terakhir di proyek Kota Baru Parahyangan tersebut, Lyman Group akan meluncurkan perumahan dengan luas tanah 7-10 hektare yang terdiri dari 5 klaster berkapasitas 500 unit. Tak hanya itu, Lyman Group juga bakal meluncurkan proyek komersial seluas 3-8 hektare yang terdiri dari 4 klaster berkapasitas 8-20 unit.


Iwan S. Lukminto (Peringkat 45)

Nama Iwan S. Lukminto, 40 tahun, tak akan bisa lepas dari PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex. Betapa tidak, ia adalah generasi kedua yang memegang nahkoda perusahaan tekstil tersebut sejak 1997. Namun, masuknya Iwan menjad orang terkaya ke-45 di Indonesia tak lepas dari manuver perseroan untuk melantai di bursa saham. Kekayaan Iwan disebut Forbes mencapai US$ 540 juta.

HM Lukminto, ayahnya, mengawali segala kesuksesan Sritex dari sepetak toko baju di pasar Klewer, Solo, yang berdiri sejak 1966. Ketika kita mendengar nama Sri Rejeki, mungkin terdengar asing, padahal dari nama itulah muncul sebuah perusahaan tekstil kenamaan dalam negeri yang dipercaya membuat seragam tentara NATO di medan perang hingga baju modis di outlet ZARA.

Pada 2013, Sritex meramaikan pasar modal dengan menawarkan 30,12 persen kepemilikan atau sebanyak 5,6 miliar sahamnya. Dengan mematok harga Rp 240 per lembar, Sritex sukses mengantongi dana hingga Rp 1,3 triliun.

Kini, saham Sritex dengan kode SRIL adalah salah satu primadona di pasar modal. Bagaimana tidak? Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 13,03 persen sejak awal tahun, harga saham malah melonjak 126,38 persen. Harga saham Sritex meroket dari Rp 163 per lembar pada akhir 2014, menjadi Rp 369 pada perdagangan kemarin.

Dari sisi kinerja keuangan, Sritex juga mampu mencatatkan performa positif. Sepanjang Januari-September 2015, perseroan mampu mencatatkan penaikan penjualan kotor sebesar 13,4 persen menjadi US$ 475,2 juta, dari US$ 419,4 di periode yang sama 2014. Sementara laba bersih Sritex juga menanjak 29,6 persen menjadi US$ 38,3 juta dari US$ 29,5 juta.


Soejtipto Nagari (Peringkat 50)

Pendiri PT Summarecon Agung Tbk ini telah mengecap asam garam bisnis properti di Indonesia. Pria berusia 74 tahun mendirikan salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia tersebut pada 1975 bersama dua anggota keluarga lainnya. Ia disebut Forbes menggenggam kekayaan senilai US$ 400 juta.

Proyek Summarecon yang terkenal adalah kawasan perumahan elit di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dalam perjalanannya, pada 1990 perseroan mencatatkan sahamnya di lantai bursa. Kemudian pada 1992, keluarga Soetjipto Nagari yang aktif menjadi aktivis sosial organisasi Buddha Tzu Chi ini menjadi penguasa perusahaan tersebut.

Yang terkini, Summarecon bakal mengembangkan megaproyek skala kota atau township development dengan nama Summarecon Bandung, di Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat setelah sukses mengembangkan Summarecon Bekasi.

Dengan lahan seluas 270-300 hektare, Summarecon Bandung pada awalnya akan menawarkan sebanyak 400 unit dengan rentang harga Rp 1,3 miliar hingga Rp 2,6 miliar per unit. Perseroan membidik penjualan senilai Rp 500 miliar hingga Rp 700 miliar.

Sayangnya, kinerja perseroan agak melemah pada tahun ini. Selama Januari-September 2015, laba bersih perseroan turun 7,45 persen menjadi Rp 807 miliar dari Rp 872,37 miliar. Penurunan laba bersih ini terjadi karena penaikan beban bunga hingga 76,17 persen yoy akibat adanya penerbitan obligasi diakhir 2014. Padahal, pendapatan perseroan berhasil meningkat 15,42 persen menjadi Rp 4,49 triliun, dari sebelumnya Rp 3,89 triliun. (gen)