Head of Legal and Corporate Communication PT Penilai Harga Efek Indonesia, Nia Isnaini menyatakan pasar obligasi domestik di tahun 2016 memiliki prospek membaik dari tahun 2015 seiring dengan potensi membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan naik ke level 5,3 persen.
“Potensi membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut didorong oleh efek dari realisasi paket kebijakan ekonomi I-VIII. Adanya potensi penurunan BI rate pada kuartal I-2016 diperkirakan dapat mendorong penurunan imbal hasil (yield) yang dapat berdampak positif terhadap pasar obligasi,” jelasnya dalam keterangan resmi yang diperoleh CNN Indonesia, dikutip Minggu (3/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Selain itu, pasar obligasi juga perlu mencermati risiko perlambatan ekonomi Tiongkok yang dapat kembali menekan harga komoditas global. Kemudian dari dalam negeri, risiko kurang efektifnya implementasi paket kebijakan dan rendahnya serapan anggaran dapat menjadi faktor penahan kinerja pasar obligasi,” jelasnya.
Sepanjang tahun ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk 12,13 persen. Hal tersebut berbeda dengan capaian pasar obligasi dalam negeri. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang menggambarkan kinerja pasar obligasi Indonesia di tahun 2015 bergerak positif, kendati tidak setinggi tahun sebelumnya.
“ICBI pada tahun 2015 mencatatkan positive return tahun berjalan sebesar 4,2 persen sepanjang tahun dari level 175,89 menjadi 183,27. Meski masih positif, angka tersebut jauh lebih rendah dibanding positive return tahun berjalan di tahun 2014 yang sebesar 12,6 persen sepanjang tahun,” ujar Nia.
Lebih lanjut, ia mencatat rata-rata volume obligasi korporasi turut menunjukkan peningkatan di tahun 2015 yakni sebesar 11,5 persen dari tahun sebelumnya dari sebelumnya Rp676,1 miliar per hari menjadi Rp754,0 miliar per hari. (gir)