Investor Relations Astra Agro Rudy Limardjo menyatakan sampai dengan Januari 2016, produksi CPO Astra Agro mencapai 124 ribu ton atau turun sebesar 2,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 127 ribu ton.
“Hal ini seiring dengan turunnya produksi tandan buah segar (TBS) Astra Agro sebesar 5,1 persen atau mencapai 376 ribu ton dibandingkan tahun lalu,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sampai dengan Januari 2016, volume penjualan CPO Astra Agro mencapai 74 ribu ton atau naik 10,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” jelasnya.
“Sedangkan harga jual rata-rata kernel juga turun 12,9 persen pada periode yang sama dari Rp4.625 per kilogram, menjadi Rp 4.028 per kilogram,” katanya.
Untuk diketahui, saat ini perusahaan perkebunan milik Grup Astra tersebut berencana menerbitkan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD/rights issue) dengan nilai mencapai Rp4 triliun untuk membayar utang.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, manajemen Astra Agro menyatakan bermaksud untuk menerbitkan tidak lebih dari 450 juta saham baru dan mengestimasikan bahwa dana yang akan diperoleh sekitar Rp 4 triliun.
“PT Astra International Tbk telah mengindikasikan niatnya untuk melaksanakan HMETD miliknya menjadi saham yang mewakili 79,68 persen dari Saham Baru dan bertindak sebagai pembeli siaga untuk sisa Saham Baru yang tidak diambil bagian dalam penambahan modal dengan memberikan HMETD,” tulis manajemen, dikutip Kamis (25/2).
Dari sisi kinerja keuangan, laba bersih Astra Agro pada tahun 2015 anjlok 75,28 persen menjadi Rp619 miliar dari Rp2,5 triliun pada periode yang sama tahun 2014.
Selain itu, terdapat kerugian kurs yang sangat besar pada tahun 2015 yaitu mencapai Rp580,37 miliar. Jumlah itu naik dari rugi kurs Rp126,68 miliar pada 2014 (gir)